Sociopreneurship Sebagai Nilai Instrumen Pengentasan Kemiskinan

Oleh: M Nata Adhiyaksya

HASIL Penelitian Imperial College London menyorot bahaya dari ketidaksetaraan dalam hal ekonomi. Hasil penelitian di Inggris menemukan bahwa kemiskinan bisa membuat seseorang meninggal 10 tahun lebih cepat

Kondisi keuangan yang buruk akan membawa orang ke gaya hidup yang tidak sehat, sehingga dapat mempengaruhi rendahnya harapan hidup seseorang. tentu hal ini sudah menjadi sorotan masyarakat global bahwa pengentasan kemiskinan merupakan fokus dari setiap negara.

Komitmen dunia mengenai pengentasan kemiskinan dituangkan melalui Sustainable Development Goal’s bahwa di poin pertama tertulis komitmen untuk mengentaskan segala bentuk kemiskinan di semua tempat.

Tentu, bila dilihat dari komitmen SDG’s ini diperlukan sebuah formulasi pengentasan kemiskinan yang pas bagi setiap negara.

Bila melihat Negara-negara Skandinavia bahwa angka harapan hidup masyarakat nya tinggi merupakan cermin dari pengentasan kemiskinan yang baik oleh karena itu formulasi mengenai pengentasan kemiskinan yang ada di negara Skandinavia perlu untuk bisa di integrasikan dengan formulasi pengentasan kemiskinan di Indonesia.

Di negara Skandinavia masyarakat dijamin oleh negara mengenai kebutuhan dasarnya seperti akses kesehatan, pendidikan, dan sosial ekonomi. Sehingga masyarakatnya mampu untuk keluar dari kantung kemiskinan.

Tentu berbeda dengan negara Indonesia yang secara geografis dan demografis memiliki keunikannya.
Pada saat ini Indonesia sedang menuju menjadi negara kesejahteraan (welfare state) terlihat dari formulasi pemerintah memberikan jaminan kepada masyarakat di bidang pendidikan, kesehatan, sosial dan ekonomi.

Walau hal itu belum sempurna tentu memerlukan proses serta formulasi jaminan kepada masyarakat agar masyarakat yang menerima jaminan ini nantinya mampu mandiri.

Secara demografis Indonesia sejak tahun 2014 -2035 puncaknya mengalami bonus demografi, tentu banyaknya jumlah penduduk produktif harus di imbangi dg kualitas sumber daya manusia yang mampu berkolaborasi untuk pengentasan kemiskinan.

Secara geografis Indonesia sebagai negara agraris dan kepulauan menjadikan budaya hidup masyarakat yang selalu bersentuhan dengan alam, sehingga memiliki keunggulan dalam Sumber Daya Alam.

Melalui potensi sumber Demografi dan Geografi bisa di integrasikan melalui bekal SDM yang memiliki hardskill kewirausahaan sosial yang tinggi, agar potensi alam dapat di manfaatkan menjadi potensi ekonomi yang mengedepankan asas berkelanjutan, tentu melalui penciptaan entrepreneur akan memiliki dampak pada pengentasan kemiskinan masyarakat, karena melalui entrepreneurship seseorang akan mampu mandiri secara ekonomi, konsep ini sangat baik bila dijalankan seimbang antara kepentingan ekonomi dan sosial yang akan melahirkan konsep tentang Sociopreneurship di masyarakat.

Melihat potensi Sociopreneurship (kewirausahaan sosial) yang cukup baik,Namun jumlah dari entrepreneur Indonesia baru 3% dari jumlah penduduk, tentu masih jauh di bawah negara-negara lain seperti cina yang sudah mencapai angka 13%.

Tentu Sociopreneurship adalah tugas anak-anak muda agar mampu membuat dirinya dan masyarakatnya mandiri, hal ini adalah syarat untuk membebaskan masyarakat dari kantung kemiskinan.

Penulis adalah Mahasiswa STKS Bandung

Bagikan:
Left Menu Icon