Sidang Putusan Habib Bahar, Massa Demo di Depan Gedung Sidang

Seratusan orang berunjuk rasa di depan Gedung Arsip dan Perpustakaan Kota Bandung, Jalan Seram, Selasa (8/7/2019). Mereka pendukung Habib Bahar bin Smith yang akan mengikuti sidang putusan kasus penganiayaan dua remaja.

Pantauan kesatuco, massa mayoritas mengenakan sarung dan peci warna putih. Kawat berduri dibentangkan di halaman depan Gedung Arsip dan Perpustakaan, tempat digelarnya sidang pembacaan putusan.

Jalan di sekitar gedung persidangan ditutup oleh pihak kepolisian. Massa terus berorasi meminta agar majelis hakim menyatakan tidak bersalah dan membebaskan Bahar.

Kereta Cepat Jakarta Bandung Minim Getaran dan Guncangan

Pada sidang sebelumnya, Bahar membacakan pledoi atau nota pembelaan di hadapan majelis hakim. Ia mengatakan alasan dirinya tidak melaporkan Hairul Umam Al Muzzaki dan Cahya Abdul Jabbar karena sempat tidak percaya pada Polri.

Hairul Umam dan Cahya mengaku-ngaku sebagai Habib Bahar saat di Bali dan mengetahui hal itu setelah mendapat laporan. Bahar kemudian kemanggil keduanya ke pesantren dan menganiaya Umam dan Jabbar.

“Adapun kenapa saya tidak melaporkan kejadian tersebut, yang mulia, saya jujur saya kehilangan kepercayaan kepada para penegak hukum yang ada di indonesia khususnya kepolisian,” ujar Bahar dalam pledoi lisan di persidangan, Kamis 20 Juni 2019 lalu.

Lawan Persija, Rene Alberts Pastikan Persib Akan Bangkit Dari Keterpurukan

Kasus ini sendiri terendus berkat beredarnya video Bahar sedang menganiaya di sebuah lapang, kemudian orang tua korban melaporkannya ke polisi. Kasus Bahar kemudian ditangani Ditreskrimum Polda Jabar dan akhirnya disidangkan di PN Bandung dengan meminjam tempat Gedung Perpustakaan dan Arsip Kota Bandung.

“Karena selama ini kami membuat laporan tidak pernah ditanggapi adapun ketika kami yang terlapor secepat kilat dari saksi jadi tersangka, dari tersangka langsung ditahan. Oleh karenanya dengan alasan itulah kami tidak membuat laporan,” ujar Bahar.

Seperti diketahui, ‎Bahar dituntut pidana penjara selama 6 tahun oleh jaksa karena terbukti melakukan tindak pidana Pasal 333 ayat 3, Pasal 170 ayat 3 juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUH Pidana dan Pasal 80 Undang-undang Perlindungan Anak.

‎”Saya tidak ada niat untuk menganiaya kedua korban tersebut. Saya hanya ingin tabayun ingin cari tahu, ingin klarifikasi betul atau tidaknya. Saya memang orang yang keras, jikalau saya ingin tanpa mencari tahu, membabi buta tidak mungkin saya suruh murid saya menjemput dan bawa ke pondok,” ujar Bahar.

“Saya punya ratusan ribu murid di daerah Jabar apalagi di Bogor. Kalau saya punya niat jelek, bisa saja saya suruh murid saya menghabisi dia di jalan tanpa mengotori tangan saya, kalau saya punya niat jelek,” ujar Bahar memberi pembelaan.

Bagikan:
Left Menu Icon