Sempat Terdampak Pandemi, Wisata Religi di Purwakarta Mulai Bergeliat

KESATUCO. Kabupaten Purwakarta semakin dikenal sebagai salah satu daerah tujuan wisata di Jawa Barat. Tak sedikit wisata yang menjadi rekomendasi yang sayang jika dilewatkan. Mulai wisata alam, wisata edukasi, wisata sejarah, wisata budaya, wisata kuliner, hingga wisata religi.

Bupati Purwakarta Anne Ratna Mustika menyebutkan, wisata religi menjadi salah satu yang terdampak pandemi COVID-19. Padahal, jumlah kunjungan destinasi wisata ini setiap tahunnya selalu mengalami peningkatan.

Memasuki masa Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB) ini, wisata religi pun mulai bergeliat kembali.

“Seperti di Masjid Agung Baing Yusuf ini, dengan penerapan protokol kesehatan yang ketat, wisata religi sudah mulai dibuka. Pihak DKM menyediakan tempat cuci tangan serta melaksanakan penyemprotan disinfektan secara berkala,” kata Anne melalui rilisnya, Kamis (20/8/2020).

Seperti diketahui, di kompleks masjid yang berada di lingkungan Pemkab Purwakarta itu terdapat Makam Syekh Baing Yusuf, penyebar Islam di Purwakarta. Beliau merupakan guru dari Syekh Nawawi Al-Bantani Ulama Indonesia yang menjadi Imam di Masjidil Haram.

Baca Juga:  Kontak Tembak dengan KBB, Anggota Yonif 400/BR Kembali Gugur

Berdasarkan data Disporaparbud Kabupaten Purwakarta, selain Masjid Agung Baing Yusuf, setidaknya ada tiga tempat wisata religi lainnya yang menjadi rekomendasi.

Di antaranya adalah Makam Eyang Pandita di Desa Pasanggrahan, Kecamatan Bojong, Kabupaten Purwakarta. Lokasinya berada di Kawasan Desa Wisata Kampung Tajur, berdekatan dengan Curug Panembahan.

“Oleh masyarakat setempat Eyang Pandita dipercaya sebagai Sesepuh Desa Pasanggrahan. Keunikan makam ini adalah lokasinya yang berada di atas bukit. Sehingga, dapat terlihat pemandangan Gunung Burangrang, area persawahan, perkebunan sayur dan kawasan hutan,” kata Kadisporaparbud Purwakarta, Agus Hasan Saepudin.

Makam Gandasoli dan Mama Sempur

Tempat wisata religi lainnya, lanjut Agus, adalah Makam Dalem Gandasoli yang berada di Desa Mekarsari, Kecamatan Darangdan, Kabupaten Purwakarta. Nama Gandasoli bermula sekitar tahun 1628.

Baca Juga:  Kapolresta Tasikmalaya Terobos Lumpur demi Buka Akses Jalan Warga

Saat itu datang seorang Panglima Tentara Mataram bernama Raden Surya Sumadita Angga Yuda atau akrab disapa Eyang Dalem Gandasoli. Kedatangannya disertai Mbah Balung Tunggal, Mbah Jaksa dan pasukannya. Tujuannya untuk menggempur tentara VOC yang berada di Batavia.

Sebelum sampai ke tujuan beliau bersama pasukannya sempat singgah di suatu tempat yang bernama Lembur Kolot (dahulu masuk Desa Gandasoli, sekarang masuk Desa Mekarsari). Pada waktu itu jalur sungai yang digunakan untuk menuju Batavia satu-satunya melalui Sungai Citarum.

“Eyang Dalem Gandasoli meninggal pada tahun 1713. Peralatan dan bajunya sampai saat ini masih ada dan aman disimpan oleh warga sekitar,” ujar Agus.

Dan satu lagi adalah Makam Mama Sempur terletak di Desa Sempur, Kecamatan Plered, Kabupaten Purwakarta. Nama lengkapnya adalah KH Tubagus Ahmad Bakri bin KH Tubagus Syeda bin KH Tubagus Arsyad.

Baca Juga:  BRPK Belum Diterima, Penetapan Paslon Terpilih Pilkada Depok Ditunda

Mama Sempur adalah salah satu tokoh muslim di Purwakarta yang menyebarkan agama Islam. Beliau saat ini dikenal sebagai Mama Sempur. Dia mendapat garis layak dari Keraton Banten (Istana Banten), diambil dari garis layak KH Tubagus Arsyad dari Keraton Banten.

Di akhir setiap bulan Dzulqaidah, tempat itu selalu melaksanakan haulan, sebuah peristiwa untuk mengingat wafatnya Mama Sempur.

“Hingga saat ini setiap peringatan wafat Mama Sempur banyak para peziarah yang datang dari berbagai daerah, bahkan tidak sedikit pula dari luar provinsi. Warga sekitar mendapat barokah dari peringatan haul Mama Sempur karena lahan milik mereka disewa untuk lapak berjualan kepada para pedagang di sekitar makam,” kata Agus. (Red)

Bagikan: