Sah! Bupati Muba Dodi Reza Sandang Gelar Doktor dari Universitas Padjajaran

KESATUCO. Ratusan karangan bunga berjejer rapi di Halaman Graha Sanusi Hardjadinata Universitas Padjajaran (Unpad) Bandung, Jawa Barat, Selasa (28/1/2020) pagi. Bertuliskan ucapan selamat kepada Bupati Muba Dodi Reza.

Silih berganti ratusan tamu undangan mulai dari pejabat pemerintahan dan non-pemerintahan di tingkat pusat maupun daerah memasuki aula megah kampus bergengsi tersebut.

Bukan kegiatan wisuda, melainkan tamu undangan tersebut untuk menghadiri rangkaian Sidang Promosi Program Doktor Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) Bupati Musi Banyuasin (Muba) Dodi Reza Alex.

Turut hadir Ketua Ombudsman RI Prof Amzhulian Rifai SH LLM PhD, Mantan Menteri Perindustrian RI Saleh Husin, Wakil Ketua KADIN Indonesia, Ketua DPRD Sumsel RA Anita Noeringhati, dan Wakil Ketua DPRD Sumsel Muchendi Mahzareki.

Hadir pula Narasumber Disertasi H Gofar, Direktur PT Tanjung Carat Putra, Regina, Presiden of Sampoerna University Marshall School, Wakil Bupati Muba Beni Hernedi, Bupati dan Wali Kota di Sumsel, dan Ketua DPRD Kabupaten/Kota di Sumsel.

Tak ketinggalan, Pimpinan Perusahaan/BUMN/BUMD di Sumsel. Kemudian, Forkopimda Muba dan Kepala OPD di lingkungan Pemkab Muba.

Di tengah kesibukan Dodi Reza Alex menjadi kepala daerah, tidak menyurutkan langkah dirinya menyelesaikan pendidikan ke tingkat Program Doktor.

Padahal, dirinya pun juga disibukkan menakhodai banyaknya organisasi berkompeten. Mulai dari Kamar Dagang Industri (KADIN) Sumsel, hingga Ketua Umum Lingkar Temu Kabupaten Lestari (LTKL) Indonesia, dan organisasi lainnya.

Sapu Bersih Pertanyaan Tim Penguji

Pada Program Doktor ini, Dodi Reza mengambil judul disertasi Jejaring Kebijakan dalam Pengelolaan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK). Studi Kasus di Kawasan Ekonomi Khusus Tanjung Api-Api (TAA) Sumsel.

Diketahui, Dodi Reza juga alumni Universite Libre de Bruxelles, Belgia. Dan peraih penghargaan BBL Prize Award (tesis yang ditulis dalam Bahasa Prancis).

Lancar dan lugas, paparan hingga pertanyaan-pertanyaan ‘disapu bersih’ olehnya ketika menghadapi delapan tim penguji yang terdiri dari Dekan FISIP Unpad yakni Dr Raden Widya Setiabudi Sumadinata, SIP SSi MT MSi.

Bertindak sebagai Tim Promotor Prof Dr Drs H Budiman Rusli MS, Prof H Syamsurijal AK MSc PhD, Ida Widianingsih SIP MA PhD.

Kemudian, Tim Oponen Ahli Prof Armida Salsiah Alisjahbana SE MA PhD, Dr Drs H Entang Adhy Muhtar MS, Dr Drs H Heru Nurasa MA. Serta Tim Representasi Guru Besar Prof Dr Drs H Sam’un Jaja Raharja MSi.

“Hasil penilaian kami Tim Penguji bahwa hasil Disertasi Promovendus Dodi Reza Alex sangat memuaskan dan yang bersangkutan berhak menyandang gelar Doktor,” ujar Budiman Rusli.

Sementara itu, Dr Dodi Reza Alex Lic Econ MBA mengucapkan terima kasih atas dukungan berbagai pihak. Khususnya keluarga besar dan masyarakat Muba yang hingga ke fase ini selalu memberikan support kepada dirinya.

“Semoga capaian hingga saat ini membuat saya selalu berbuat baik untuk umat dan bangsa, khususnya masyarakat Muba,” ujarnya.

Delapan Karakteristik Primer Penentu Jejaring Kebijakan

Dodi juga diketahui pernah menjabat sebagai Ketua Umum Perhimpunan Pelajar/Mahasiswa Indonesia (PPI), Belgia, 1994 – 1996.

Dikatakan Dodi, berdasarkan analisa, bahwa ada delapan karakteristik primer yang menentukan Jejaring Kebijakan dalam Pengelolaan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK).

Karakteristik primer ini meliputi Network management targets yang terdiri dari Decision making, Trust, Power, dan Knowledge creation and management.

Kemudian meliputi Management behaviors and competences yang terdiri dari Activation, Framing, Mobilizing, dan Synthesizing.

“Oleh karena itu Jejaring Kebijakan Dalam Pengelolaan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) (Studi Kasus di KEK Tanjung Api-Api Provinsi Sumatera Selatan) masih belum optimal dilaksanakan,” katanya.

Sebab, ujar dia, secara teoritis, sebagaimana yang dikemukakan oleh McGuire bahwa 8 karakteristik tersebut seharusnya ada dan terintegrasi.

“Namun dalam penelitian ini dari 8 karakteristik jejaring kebijakan, masih ada yang belum menjadi karakter jejaring kebijakan,” ujarnya.

Pemahaman Baru Karakteristik Jejaring Kebijakan

Pembina dan Penggerak Olahraga Terbaik Indonesia ini menambahkan, berdasarkan kesimpulan penelitian ini dihasilkan pemahaman baru yang berkaitan dengan karakteristik Jejaring Kebijakan.

“Artinya terdapat aspek penting yang perlu diperhatikan yaitu “Authority (kewenangan)”,” ujarnya.

Dalam konsep jejaring kebijakan, setiap stakeholder yang terkait dalam jejaring kebijakan di KEK “setara” terkait kewenangannya.

Namun yang terjadi, kewenangan dari Pemerintah Daerah Kabupaten Banyuasin lebih kecil. Sedangkan kewenangan Pemerintah Daerah Provinsi Sumatera Selatan sebaliknya lebih besar dalam pengelolaan KEK Tanjung Api-Api.

“Dalam konteks otonomi daerah idealnya Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota memiliki kewenangan yang besar untuk mengurus dan mengatur potensi yang ada di daerahnya, sehingga sifatnya desentralisasi,” kata Dodi.

Sedangkan Pemerintah Daerah Provinsi, keta dia, merupakan perwakilan dari pemerintah pusat yang memiliki asas Dekonsentrasi.

“Secara khusus analisis pemahaman baru yaitu Authority perlu mendapatkan penekanan dalam bentuk kewenangan yang lebih luas,” ucapnya.

Menurut Dodi, jika kawasan KEK terbentuk tentu akan memberikan multiplayer pembangunan di Sumsel, 13 ribu hektare lahan yang telah disediakan dan sarana prasarana lainnya.

“Ini akan menjadi industri hilirisasi di Sumsel. Saya optimis apabila ini terealisasi dengan baik tentu sangat berkontribusi positif untuk berbagai sektor industri di Sumsel. Ini akan menjadi pintu gerbong ekspor impor yang ada di Sumsel,” katanya.

Sampaikan Beberapa Saran Penelitian

Lanjutnya, sesuai dengan hasil penelitian dan pembahasan tersebut, peneliti menyampaikan beberapa saran.

Di antaranya dalam upaya pengembangan Ilmu Administrasi, perlu melibatkan pendekatan ilmu-ilmu sosial lainnya. Ini diperlukan dalam rangka aplikasi Ilmu Administrasi Publik itu sendiri.

Dalam konteks penelitian ini ternyata pendekatan Ilmu Administrasi Publik tidak bisa begitu saja diterapkan, karena dalam Administrasi itu syarat dengan jejaring kebijakan. Oleh karena itu, untuk memperkaya Ilmu Administrasi perlu melibatkan ilmu-ilmu sosial lainnya seperti Ilmu Ekonomi.

Kemudian, saran praktik yakni mekanisme kerja, harus dipertegas kembali pembagian peran dan kewenangan dalam pengelolaan KEK Tanjung Api-Api.

Sehingga, mempertegas dalam proses pengambilan keputusan, dan penguatan Kapasitas SDM di Administrator KEK Tanjung Api-Api ke level SDM Standar Internasional.

Kemudian, dukungan kebijakan terkait legalitas KEK TAA dalam pemberian insentif bagi investor sehingga keuntungan yang dihasilkan memenuhi harapan.

‘Deregulation’ dan ‘Debureaucratization’ dalam penelitian ini dengan melakukan Deregulasi yang berkaitan dengan insentif pajak bagi investor. Sehingga investor tertarik untuk menanamkan investasinya di KEK TAA.

Juga melakukan Debirokratisasi di mana dalam struktur organisasi kedudukan Administrator KEK ditempatkan di atas Badan Pengelola Kawasan Ekonomi Khusus Tanjung Api-Api.

Selain itu, Badan Pengelola Kawasan Ekonomi Khusus Tanjung Api-Api harus lebih aktif lagi mencari investor lokal maupun asing yang mau menanamkan modalnya di KEK TAA. Yakni, dengan cara berkeliling membuka stan pameran-pameran produknya ke setiap daerah dan keluar negeri.

“Sehingga membuat investor tertarik serta berdampak positif dalam menumbuhkan ekonomi makro di Provinsi Sumatera Selatan,” ucapnya.(sil/add)

Bagikan:
Left Menu Icon