Riki Rhino Angkat Kepedulian terhadap Satwa Langka

KESATUCO. Cerita persahabatan Badak Sumatera bernama Riki dan bebek bernama Beni menjadi benang merah kisah film Riki Rhino. Film animasi karya Batavia Pictures ini dijadwalkan tayang Kamis (27/2/2020).

Melanjutkan kesuksesan enam film animasi Petualangan Singa Pemberani sebelumnya, Batavia Pictures kali ini mengembangkan karakter baru seekor badak Sumatera bernama Riki.

Karakter ini dikemas dalam petualangan bersama rekan-rekan satwa langka Indonesia lainnya melawan para pemburu hewan dan pelaku penebangan liar.

Proses produksi film animasi berdurasi 90 menit ini, seluruhnya dilakukan di Kota Bandung. Sedangkan para pengisi suara dilakukan oleh sejumlah aktris dan aktor Indonesia. Di antaranya Dimas Danang, Niken Anjani, Mo Sidik, Ge Pamungkas, Ridwan Kamil, Hamish Daud, Zack Lee, dan Aurel Hermansyah.

Produser Film Riki Rhino, Genesis Timotius mengungkapkan, proses panjang pembuatan film ini diikuti dengan pemilihan pengisi suara yang memiliki nilai sesuai dengan film.

Memakan Waktu 4,5 Tahun

Memakan waktu 4,5 tahun, tim produksi sampai harus melakukan riset ke Taman Nasional Way Kambas di Kabupaten Lampung Timur.

“Lebih dari 6 bulan, tim produksi ke Way Kambas untuk melihat langsung wujud badak Sumatera. Memang harus riset dengan baik karena kita ini menggambarkan Badak Sumatera, satwa langka. Jadi memang harus bikin semirip mungkin dengan aslinya,” katanya di Cihampelas Walk, Ahad (23/2/2020).

Tim produksi sebanyak 100 orang disebut Genesis jadi tanda keseriusan mereka menggarap film animasi. Tidak cuma menghibur, tapi juga memiliki pesan sosial yang bisa disampaikan. Apalagi, mereka membuat sebuah film animasi bertemakan satwa langka yang jarang diangkat ke dalam karya film.

Pada film ini, penonton akan diajak melihat perjalanan Riki ditemani Beni, sahabatnya menelusuri taman-taman nasional di Indonesia. Mulai dari Sabang sampai Kalimantan, Riki dan Beni berusaha membantu teman-temannya yakni satwa langka untuk melawan para pemburu satwa langka, yakni manusia.

“Filmnya ada pesan mengenai lingkungan hidup, kenapa sih kita harus jaga satwa dan habitatnya. Kemudian, pemburu yang sesungguhnya paling buas ya manusia itu sendiri. Mereka (satwa) ini layak dilindungi, itulah alasan kenapa saya mau garap film ini,” ujarnya.

Senada dengan Genesis, sutradara film Riki Rhino, Erwin Budiono mengatakan proses panjang dalam pembuatan produksi film ini disiapkan untuk jangka panjang juga. Menjadi pengalaman pertamanya menggarap film animasi, dia mengaku ini merupakan tantangan.

Mengantarkan Alur Cerita melalui Film Animasi

Tantangan terbesarnya adalah mengantarkan alur cerita melalui film animasi. “Benar kata pak Genesis, proses riset kita yang panjang karena film ini merupakan visualisasi fauna langka Indonesia serta proses development script dan kreatif series Riki Rhino kedepannya,” kata Erwin.

Diungkapkannya, pemilihan dubber untuk mengisi suara cukup memakan waktu. Katanya, para dubber ini harus mampu menyampaikan pesan dalam film ini kepada penonton. Sampai dengan batas waktu yang ditentukan, ia masih terus mencari pengisi suara yang pas.

“Satu adegan di animasi itu memakan waktu 25 menit. Supaya terplanning dengan baik, kita tidak mungkin membuat kesalahan di tengah-tengah proses pembuatan karena sangat memakan waktu,” katanya.

Selain itu, kata dia, proses casting dilakukan sejak awal tahun kemarin. “Karena biasanya aktor kan langsung di depan kamera, ini mereka berhadapan dengan mikrofon dan menyuarakan karakter sesuai gambar yang ada,” ucapnya.(sab/add)

Bagikan:
Left Menu Icon