Ratno Suratno: Garut Darurat Sampah

KESATUCO.  Sekretaris Dewan Kebudayaan Kabupaten Garut (DKKG), Ratno Suratno atau yang biasa dipanggil Wa Ratno mengatakan, saat ini Garut menghasilkan sampah  kurang lebih 100 ton perhari. Jumlah sampah tersebut apabila diasumsikan rata-rata setiap kepala keluarga menghasilkan lima Kg sampah perhari.

Sementara, yang tertangani oleh pemerintah hanya mencapai 40-50 ton per hari. Mulai dari rumah, TPS (tempat pembuangan sementara) sampai ke TPA (Tempat Pembuangan Akhir). Sehingga sisa sampah tersebut masih terbengkalai.

Sisa sampah tersebut menurut Wa Ratno, akhirnya dibuang ke sungai, selokan dan parit-parit dan jalanan. Ketika sampah-sampah didaur ulang pun tidak sampai 10 persen. “Lalu sisa sampahnya dikemanakan. Artinya setiap hari Pemda Garut menabung sampah yang tidak terkendali sebanyak 30 persen sampah,” katanya.

Kerusakan Lingkungan

Sekretaris DKKG, Ratno Suratno alias Wa Ratno. (Ft: ist)

Sampah sebanyak 30 persen, kata Wa Ratno dibuang ke berbagai tempat seperti jalan, sungai, laut, got, gorong-gorong. Tentu saja, itu bisa menyebabkan kerusakan lingkungan. Terlebih lagi menjelang musim hujan, sampah tersebut akan menjadi sumber bahaya, salah  satunya bahaya banjir.

“Seharusnya sisa sampah itu polanya saat ini harus dimusnahkan, dengan menggunakan tekhnologi pemusnah sampah. Selama ini, proses pembuangan sampah berujung di TPA, lambat laun akhirnya semakin menumpuk. Apabila sehari saja menghasilkan satu ton, maka dalam waktu satu bulan berapa jumlah sampah yang menumpuk,” katanya.

Sampah yang munumpuk akan membahayakan kelangsungan hidup dan merusak ekologi tanah. Salah satu solusi mengurai masalah sampah itu dengan cara dimusnahkan menggunakan incenerator yang ramah lingkungan dan membutuhkan biaya tinggi.

“Saat ini membutuhkan incenerator yang ramah lingkungan. Sampah sisa dari penanggulangan yang dilakukan pemerintah yang masih tercecer harus disirnakan dengan menggunakan pola ini. Jangan sampai Sungai menjadi kantung-kantung sampah,” paparnya.

Selanjutnya, ujar Wa Ratno, masyarakat juga harus dibangun kesadaran akan bahaya sampah. Selama ini sebagian besar masyarakat bermusuhan dengan sampah. Maka, pola ini haru segera dirubah, jadikan sampah menjadi  berkah.

“Budayakan memilah sampah mulai dari rumah, pisahkan plastik dan organik. Apabila  kesadaran masyarakat tentang sampah dimulai dari rumah masing-masing, maka  pemerintah pun akan mudah melakukan penanggulangan,” terangnya. (aa)

Bagikan:
Left Menu Icon