Radikalisme Bisa Papar Siapa Saja

KESATUCO. Pengurus Pondok Pesantren Alhasaniyah KHR Rahmat Fauzi tegaskan radikalisme dapat memapar siapa saja. Baik kalangan agamawan, ASN, kaum milenilal, bahkan masyarakat umumnya.

“Padahal, jika melihat konteks ayat wama arsalnaaka illa rahmatan lil alamin, ada pendapat yang mengartikan bahwa cakupan rahmat bagi alam seisinya memberikan ruang gerak bagi tumbuhnya masyarakat plural (majemuk). Hal itu yang senantiasa cinta damai dan menjunjung tinggi nilai-nilai moral dan peradaban,” ujarnya saat menjadi pemateri dalam Halaqoh Kebangsaan di Pesantren Global Insani Mandiri (GIM) Karangsirna, Desa Nanggerang, Kecamatan Cicurug, Kabupaten Sukabumi, Minggu (23/2/2020).

Menurutnya, di zaman rosulullah, Madina adala pemerintahan yang dibangun atas dasar penghargaan terhadap kebhinnekaan agama, suku, dan tradisi. Prinsip ini tertuang dalam naskah konstitusi Negara Madinah yang dikenal dengan sebutan Piagam Madinah.

“Substansi Piagam Madinah merupakan refleksi atas rekonsiliasi antar etnis dan agama guna membangun pranata sosial masyarakat yang damai, aman, dan sentosa. Termasuk bebas dari intimidasi, dan anti penindasan,” ucapnya.

Selain itu, terdapat empat kunci utama dalam membangun masyarakat. Hal itu dimulai dari membentuk pranata sosial, sikap pemaaf dalam mengutamakan persatuan dan persaudaraan daripada dendam.

“Termasuk perubahan sosial dilandasi kompromi dan rekonsiliasi melalui musyawarah mufakat, dan memiliki landasan moralitas dan agama serta memiliki sifat rohman dan rohim,” ungkapnya

Budayawan Agung Priyaguna Irfan menyetujui jika radikalisme bisa menyerang siapapun. Baik ASN, agamawan, ataupun yang lain. Radikalisme memapar kalangan yang tidak memiliki Orientasi spritual. Di Indonesia sendiri, setiap suku di Indonesia memiliki nilai kearifan lokal yang benang merahnya adalah sama antar satu dengan suku lainnya.

“Kristalisasi nilai nilai luhur dari budaya setiap suku di Indoensia, menjadi Pancasila,” terangnya.

Maka dari itu, harus mengetahui pentingnya adab dan keutamaan ilmu. Karena adab menjadi salahsatu media untuk turunnya ilmu dari guru ke murid dan mempermudah murid menerima ilmu.

“Kita dengan suku lainnya hanya berbeda kemasan saja sementara nilai nilai kearifannya adalah sama,” paparnya

Dalam penelaahan literatur peninggalan leluhur, terlihat bahwa leluhur Memiliki mental yang kuat dan orientasi spritual atau keilahian. Pencapaian spiritual adalah akhlak.

“Konsep siliwangi, silih asah asih dan asuh menuju kesalehan sosial,” terangnya.

Indonesia adalah bangsa yang beragam dan menyadari keberagamannya, bukan mengkomparasi. Karena komparasi bertujuan mencari atau menemukan persamaan.

“Sementara keindahan itu terdiri dari ragam. Keanekaragaman itu mengarah kepada harmoni dan keindahan,” ucapnya

Indonesia itu cerminan dari keanekaragaman suku. Dalam wujud sebuah bangsa adalah Indonesia dengan konsep Pancasila.

“Dasar toleransi sudah ada, karena kita sadar bahwa kita beragam,” jelssnya.

Kabid Bina Ideologi, Wasbang & Ormas Kesbangpol Kabupaten Sukabumi Edyatna Susila menjelaskan penyebab radikalisme adalah Sifat ego sectoral dan intelektual. Sikap yang Lebih mengedepankan perbedaan daripada persamaan merupakan akar penyebab ekstrimisme radikalisme dan intoleransi.

“Masyarakat kita yang beragam, tentu ada perbedaan dalam pendidikan, budaya, agama yang jika tidak dikelola dengan baik, rawan timbulnya gesekan,” paparnya.

Majelis Wakil Cabang (MWC) Nahdlatul Ulama Cicurug Sukabumi A. Moch. Anwar Saddat menjelaskan Konsep keislaman Indonesia adalah kesepakatan para alim ulama.Semoga acara semacam halaqoh kebangsaan yang hari ini digelar, dapat menjadi modal kita untuk menjaga NKRI.

“Pancasila adalah ideologi besar, berkaitan dengan nilai-nilai Islam,” pungkasnya. (jay)

Bagikan:
Left Menu Icon