QRIS Bidik Pedagang Pempek, Sebuah Inisiasi Konkret Bank Indonesia

KESATUCO. Siapa yang tak kenal dengan pempek. Pempek, merupakan salah satu kuliner khas kota Palembang yang semakin diminati dan terus meningkat dalam produksi dan pemasarannya, baik skala lokal, nasional dan internasional.

Perkembangannya semakin menunjukkan trend positif yakni mencapai 6,4 ton per hari di 300 gerai pempek dengan total estimasi transaksi hingga Rp 3 miliar per bulan.

Potensi produksi pempek yang dapat mencapai skala lebih besar seiring dengan kenaikan permintaan masyarakat, inovasi teknologi serta semakin terbukanya potensi pasar, belum berbanding lurus dengan pemahaman para pelaku UMKM terhadap kanal pembayaran yang semakin canggih secara nontunai.

Melihat hal tersebut, Bank Indonesia Kantor Perwakilan Wilayah Sumatera Selatan menginisiasi edukasi pengenalan kanal pembayaran terbarukan Quick Response Indonesia Standard (QRIS) kepada 155 pelaku usaha UMKM Pempek di Kota Palembang, Jumat (13/12/2019) di Ballroom Hotel Aryaduta Palembang.

QRIS sendiri merupakan alat pembayaran nontunai berbentuk barcode yang ditujukan untuk melakukan pembayaran bagi pelaku UMKM. Selain itu juga QRIS dapat membatu pelaku UMKM mempermudah dalam pencatatan transaksi atau laporan keuangan sederhana bila ingin mendapatkan fasilitas pinjaman kredit/pembiayaan oleh Perbankan.

Manfaat lain dari QRIS bagi merchant juga adalah terhindar risiko uang palsu, efisiensi pengelolaan uang tunai dan hasil penjualan langsung masuk ke rekening.

Edukasi dan Sosialisasi tersebut diharapkan membuka wawasan para pedagang dan memahami arti pentingnya QRIS yang mampu memproses pembayaran lebih cepat, saling terkoneksi, andal dan aman sehingga berdampak pada tingginya efisiensi, peningkatan produksi serta perbaikan pelayanan bagi konsumen.

Dalam sambutannya, Kepala Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran Bank Indonesia, Filianingsih Hendrata mengatakan, saat ini seluruh masyarakat sudah terpapar digitalisasi. “Mulai dari masyarakat umum sampai koorporasi selalu menggunakan digitalisasi dalam kesehariannya,” ujarnya.

Kemajuan teknologi, sambungnya, mengubah sistem pembayaran dari yang tunai ke nontunai. “Artinya, ketika masyarakat melakukan pemesanan atau pun pembayaran di suatu merchant, mereka tinggal menunjukkan atau men-scan barcode yang tersedia di aplikasi ponselnya ke para pedagang pempek,” katanya menambahkan.

Sejalan dengan penjelasan tersebut, QRIS sendiri mempunyai manfaat, seperti data transaksi yang tercatat dengan baik, otomatis dan termonitor serta dapat meningkatkan peluang traffic atau aktivitas pembayaran.

Manfaat lain sebagai alternatif pembayaran kekinian, juga menjadi sumber data dalam rangka penyusunan kebijakan.

Kepala Perwakilan BI Sumsel Yunita mengatakan, QRIS ini juga dalam rangka persiapan Indonesia dalam ekonomi keuangan digital 2025.

Dijelaskannya, sampai dengan 9 Desember 2019, QRIS telah terpasang lebih dari 1,2 juta merchant di seluruh Indonesia.

“Di Provinsi Sumatera Selatan sendiri telah terdaftar sekitar 32.243 merchant QRIS, dan di kota Palembang terdaftar sebanyak 19.839 merchat. Selanjutnya terhitung 1 Januari 2020, seluruh pihak yang menggunakan QR Code wajib migrasi ke QRIS,” ucapnya.(sil/add)

Bagikan:
Left Menu Icon