Polres Cimahi Ungkap Bakso Oplosan Isi Daging Babi, Dijual ke Purwakarta, Tasikmalaya dan Cianjur

KESATUCO. Satreskrim Polres Cimahi mengungkap kasus oplosan daging babi dengan daging sapi. Daging yang dioplos kemudian dijual ke masyarakat dalam bentuk bakso dan rendang.

Kapolres Cimahi AKBP M Yoris Maulana Marzuki menerangkan, kasus ini berawal dari pasangan suami istri berinisial T (45) dan R (24) yang kerap mencari babi di hutan di wilayah Cimahi. Kemudian, daging itu diolah lalu dicampur dengan daging sapi untuk dijadikan baksi. ‎

“Keduanya sudah ditetapkan sebagai tersangka. Mengaku sudah beroperasi melakukan oplosan daging babi dengan daging sapi sejak 2014 dan punya empat pelanggan,” ujar Kapolres, di Cimahi‎

Baca Juga:  Kriteria Pekerja Dengan Gaji di Bawah Rp 5 Juta yang Bakal Dapat Bantuan

“Ketika diamankan, sepasang suami istri tersebut  mengakui bahwa perbuatannya sudah dilakukan sejak tahun 2014, dan sudah memiliki empat orang pelanggan”, tutur Kapolres.

Dari pemeriksaan terhadap kedua tersangka, polisi mengembangkan penyelidikannya untuk mencari barang bukti. Ternyata, oplosan daging babi dengan daging sapi racikan tersangka ditemukan di Pasar Ciawi, Tasikmalaya. Lalu Pasar Sukatani Purwakarta serta ke Cianjur.

Baca Juga:  Nasabah Minta Jokowi dan Pengadilan Buka Rekening Wanaartha

“Terkonfirmasi kedua tersangka menjual ke pasar-pasar tersebut. Diantaranya ke penjual daging sapi dan bahan baku pembuat bakso di Pasar Ciawi Tasik, dijual seharga Rp.48.000,-  dengan kapasitas sebulan sebanyak 10 kg,” katanya.

Lalu, dijual ke pemilik rumah makan di  Cianjur  Rp. 50 ribu per kilo  dengan kapasitas penjualan  10 hari sekali 10 kg. Kemudian dijual ke pria berinisial N, pedagang Pasar Sukatani Purwakarta dengan harga Rp 60 ribu per kg dengan kapasitas penjualan dua minggu sekali sebanyak 20 kg. ‎

Baca Juga:  Mayat Pria di Mobil Diduga Salah Satu Pelaku Pembobol Ruko di Munjuljaya Purwakarta

“Para penjual dan pelanggan daging oplosan itu dikenakan Pasal 62 ayat 1 atau 2 Jo Pasal 8 ayat 1 huruf d Undang-undang Tentang Perlindungan Konsumen. Lalu  Pasal 91 A Jo Pasal 58 Ayat 6 Undang-undang tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan,” ucap dia.

Bagikan:
Left Menu Icon