Plantasia, Konser Musik untuk Tanaman

BAGI Angkuy dan Nobie, personil duo grup elektronik Bottlesmoker, menggelar konser yang ditonton oleh tanaman adalah pengalaman pertama. Konser yang diberi judul ‘Plantasia’ itu berhasil menarik perhatian para pecinta tanaman yang antusias dengan musik yang diperuntukkan bagi tanaman.

Berlangsung di Lou Belle Space Jalan Dr Setiabudi, Sabtu (25/07/2020), Plantasia diikuti 50 buah tanaman dengan jenis planthouse. Terselenggara di tengah pandemi, konser ini juga sekaligus menjawab keinginan Bottlesmoker dalam membuat konser tapi tidak menimbulkan kerumunan manusia.

“Kita pengen bikin konser tapi gimana caranya tetap menerapkan protokol kesehatan. Akhirnya setelah ngobrol sama Nobie, tercetuslah ide oke kita buat pertunjukan tapi bukan untuk manusia,” kata Angkuy di Jalan Sultan Tirtayasa.

Merupakan pengalaman pertama, sebelum menggelar konser, keduanya melakukan riset mendalam mengenai pengaruh musik terhadap perkembangan tanaman. Setelah berbincang dengan peneliti dan observasi singkat, mereka akhirnya menemukan sejumlah elemen dan komposisi musik yang tepat untuk tanaman.

Mereka memasukkan 11 komposisi lagu dengan 10 elemen musik yang digunakan. Selain itu, musik untuk tanaman menghindari yang low frekuensi dan harus ada elemen string, seperti violin dan gitar.

Melodi yang repetitif atau mengulang juga bagus untuk pertumbuhan tanaman. Selain itu, frekuensi musik harus berada di antara 4.500-5.000 hertz.

“Kalau didengar manusia bisa pusing dan mual. Tapi untuk tanaman justru bagus. Setelah diteliti lagi ternyata frekuensi 5.000Hz itu burung dan tongeret juga punya frekuensi segitu. Jadi kita ada banyak pakai elemen itu dan gak boleh ada noise yang berlebihan,” jelas Angkuy.

Pada konser yang berlangsung 90 menit itu, Bottlesmoker mengambil waktu untuk memulai konser di pukul 15.30. Pemilihan waktu pun tidak sembarangan. Menurut penelitian, tanaman tidak boleh menerima musik atau alunan melodi direntang jam 10 pagi dan kurang dari jam 3 sore.

Katanya, kalau tanaman menerima musik di antara waktu tersebut bisa berpengaruh pada tumbuh kembang tanaman. Hal itu adalah waktu dengan suhu panas dan menyebabkan stomata akan terbuka terus.

“Direntang ini suhu panas dan stomata kebuka terus. Nah kalau tanaman menerima musik itu agak terganggu dan lebih cepat terhidrasi sehingga cenderung lebih layu. Makanya kita mulai konser juga di jam 15.30,” sambungnya.

Angkuy dan Nobie juga memasukan elemen musik tradisi yakni karinding dan tarawangsa. Kata Angkuy, pada perkembangan tradisi Indonesia, penggunaan alat musik karinding bisa mengusir hama atau serangga. Bunyinya yang nyaring dan mengganggu pendengaran membuat hama tidak mau dekat-dekat dengan tanaman.

Begitu juga dengan tarawangsa yang menurut legenda Sri Dewi, tarawangsa memiliki karakter melodi yang repetitif dan alunannya mengandung fibrasi yang bisa meniupkan tanaman. “Ini akan berpengaruh ke stomata, jadi bagus untuk sel tumbuh tanaman,” tuturnya.

Tanaman-tanaman yang ikut terlibat pada konser ‘Plantasia’ terdiri atas beberapa jenis planthouse, seperti monstera, sirih gading, dan bunga anggrek.

Jejeran tanaman disusun rapih mengelilingi Angkuy dan Nobie yang sedang memainkan synthesizer. Tidak main-main, pengaruh musik itu rupanya dilihat langsung oleh keduanya.

Katanya, ketika diputarkan musik yang sudah mereka olah, ada beberapa tanaman yang langsung bereaksi saat itu juga, seperti bunga Anggrek yang setelah 20 menit bisa mekar dan tanaman sirih gading yang daunnya berdiri.

Penggemar tanaman yang sangat banyak di Indonesia, akhirnya membuat Bottlesmoker akan serius menggarap musik untuk tanaman tersebut. Tanaman-tanaman yang ikut serta di konser ‘Plantasia’ ini, pemiliknya akan mendapatkan audio file, sehingga bisa diputar sendiri.

“Efek pada kajian ini gak bisa langsung instan. Butuh waktu berbulan-bulan untuk lihat hasilnya. Makanya pemilik tanaman akan dikasih audio filenya, biar bisa diputar jadi sepertinya terapi untuk tanaman,” pungkasnya.

Bagikan:
Left Menu Icon