Pentingnya Forensik Digital pada Sistem Imigrasi

KESATUCO. Imigrasi Bali kembali diterpa masalah. Setelah pada akhir Januari lalu ada serangan hacker menarget running text dengan tulisan tak senonoh di TPI Kelas 1 Denpasar, kini Imigrasi Ngurah Rai Bali terkendala sistem. Perlu dilakukan forensik digital untuk mengetahui penyebabnya.

Akibatnya, ribuan orang, baik turis mancanegara maupun domestik tidak bisa diproses masuk ke tanah air.

Dalam keterangannya, Senin (24/2/2020), Pakar Keamanan Siber Pratama Persadha menjelaskan, gangguan sistem di Imigrasi Bandara Ngurah Rai bisa karena berbagai sebab.

Mulai dari adanya bug pada sistem, koneksi yang terkendala pada pusat data, sampai pada tindakan peretasan.

“Intinya perlu dilakukan forensik digital untuk mengetahui penyebabnya. Bila memang Tim IT dari imigrasi kesulitan, ada baiknya berkoordinasi dengan Badan Siber dan Sandi Negara. Dan bila ditemukan tindakan peretasan bisa dilaporkan ke Cybercrime Polri,” kata Chairman Lembaga Siber Indonesia CISSReC ini.

Sistem Imigrasi Ngurah Rai Bali Berjalan Sesuai SOP

Pratama menambahkan, sistem di Imigrasi Ngurah Rai berjalan sesuai SOP. Saat sistem bermasalah, otomatis orang dari luar negeri tidak bisa masuk.

Berbeda dengan sistem di Soekarno Hatta yang bermasalah, namun puluhan ribu orang tetap bisa masuk dari luar negeri. Dan kedatangan buronan KPK Harun Masiku tidak terdeteksi.

“Bandara dan imigrasi ini pintu masuk dari luar yang harus benar-benar aman. Rekayasa dan manipulasi sistem maupun data bisa berakibat serius bagi kedaulatan negara.

Selain sistem imigrasi, keamanan pada sistem ATC juga harus diperkuat. Jangan sampai terkena retas atau kesalahan sistem yang membuat pesawat di udara kebingungan saat harus mendarat,” kata pria asal Cepu Jawa Tengah ini.

Kegagalan sistem imigrasi, sambungnya, memungkinkan individu yang masuk dalam daftar pencarian orang (DPO) menjadi tidak terdeteksi.

Bisa jadi ada DPO polisi, jaksa dan KPK maupun DPO interpol. Ini yang wajib diwaspadai. Ini pula pentingnya forensik digital untuk mengetahui penyebab bug-nya.

“Baiknya secara reguler dibuat pengecekan pada sistem di imigrasi dan bandara. Mencegah terjadinya kesalahan sistem karena peretasan dan bug. Jangan sampai seperti peristiwa gagal terbangnya 1.400 orang di Polandia
pada 2015 karena peretasan pada sistem bandara,” ucap Pratama.(add)

Bagikan:
Left Menu Icon