Pemerintah Harus Budayakan Pemilahan Sampah

Guna Menyelesaikan Persoalan Sampah

KESATUCO.  Setelah menyebut Garut darurat sampah, Sekretaris Dewan Kebudayaan Kabupaten Garut (DKKG), Ratno Suratno meminta Pemerintah Kabupaten Garut untuk menjalankan perannya dalam menanggulangi bahaya sampah.

Menurut mantan pegawai Chevron Gheotermal ini, peran pemerintah untuk memberikan penyadaran kepada masyarakat tentang bahaya sampah bisa melalui desa dan kader desa. “Pemilahan barang bekas alias sampah bisa dimulai dari rumah,” ujar Wa Ratno kepada kesatu.co, di halaman Museum R.A.A Adiwidjaya Garut, Jalan Pembangunan, Kelurahan Sukagalih, Kecamatan Tarogong Kidul, Kabupaten Garut, Selasa (05/11/2019).

Sistem 3R

Wa Ratno (Ft: ist)

Wa Ratno menegaskan, pola pemilahan sampah bisa menggunakan sistem 3 R (reduce, reuse dan resycle). Pola ini masih pantas digunakan untuk meminimalisir sampah. Dalam hal ini, terlebih dahulu perlu dibentuk setiap desa pola KAMI SAMA (Kawasan Minimalis Sampah Mandiri).

“Melalui sampah organik terpisah dengan non organik. Sampah organik bisa dibuat pupuk kompos, plastik bisa didaur ulang. Sedangkan sampah yang tidak terpakai bisa dihancurkan dengan incenerator,” ujarnya.

Untuk meminimalisir masalah sampah, Wa Ratno berpendapat, tidak saja di setiap desa. Tetapi bisa dilakukan di setiap kantor, sekolah dan setiap bangunan berpenghuni bisa menyelesaikan persoalan sampah dengan caranya sendiri.

“Apabila budaya pemilahan sampah sudah berjalan, maka saya yakin keberadaan sampah ini bisa diminimalisir. Jika semua itu berjalan, kemungkinan hanya sampah-sampah kota saja yang tersisa. Sisa sampah ini baru bisa masuk ke TPA. Sedangkan di lingkup desa bisa memusnahkan sampah di tempatnya sendiri,” terangnya.

Selanjutnya, kata Wa Ratno, untuk jangka panjangnya, pemerintah bisa membuat terobosan agar sampah menjadi bahan baku generator pembangkit listrik. Namun, untuk saat ini perlu dibudayakan terlebih dahulu bagaimana caranya bisa menyelesaikan pemusnahan sampah.

“Setelah Indonesia merdeka selama 74 tahun, masa tidak bisa menyelesaikan masalah sampah. Sebagai bangsa yang besar kita harus merasa malu, karena problematika sampah tidak selesai,” terangnya.

Problema pemusnahan sampah memang tidak hanya  terjadi di Kabupaten Garut saja. Maka, dengan budaya pemilahan sampah mulai dari rumah bisa juga dilakukan di daerah lain. Dalam hal ini peran pemerintah sangat penting untuk merealisasikannya.

“Di setiap desa harus punya pasukan sampah untuk meminimalisir sampah secara mandiri. Regulasi pemerintah terhadap pelaku pembuang sampah sembarangan tentunya harus dijalankan,” pungkasnya. (aa)

Bagikan:
Left Menu Icon