Partisipasi Publik Menghadapi New Normal Economy

PERTUMBUHAN Ekonomi secara global akibat dari pandemic Covid-19 yang menyebar hampir ke seluruh dunia, termasuk Indonesia mengalami penurunan yang drastis. Hal ini dibuktikan dengan Produk Domestik Bruto (PDB) yang melambat 2,41 persen jika dibandingkan dengan kuartal ke IV pada 2019, atau bias diartikan hanya tumbuh sekitar 2,97 persen saja secara tahunan pada kuartal 1 pada 2020.

Ya, tidak ada satupun negara yang tidak terkena imbas dari pandemic ini. Seperti kita ketahui, hampir semua rekan dagang Indonesia pun mengalami penurunan cukup signifikan karena kebijakan pembatasan social atau lockdown untuk mengantisipasi pandemic ini.

Amerika Serikat hanya mengalami pertumbuhan 0,3 persen saja, tiongkok yang merupakan tujuan ekspor Indonesia mengalami kontraksi hampir -6,8 persen, bahkan korea selatan yang dianggap berhasil mengendalikan pandemic corona ini hanya tumbuh 1,3 persen, hal ini mungkin akan diperparah dengan keadaan jalur distribusi logistik yang juga terganggu dan akan berdampak langsung pada kemerosotan PDB Indonesia yang pada akhirnya dampak negatif ini mau tak mau akan menerpa ekonomi Indonesia secara keseluruhan dalam beberapa waktu ke depan.

New Normal sedang jadi topik yang ramai dibicarakan beberapa hari ini setelah Presiden Joko Widodo mengunggah beberapa kesiapan penerapan prosedur di pusat-pusat keramaian seperti transportasi umum dan perniagaan.

Konsep new normal sendiri jika dilihat dari beberapa sumber, artinya aturan seperti lockdown, karantina wilayah, atau PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) lebih dilonggarkan atau direlaksasi, kemudian masyarakat berangsur-angsur mulai beraktivitas seperti biasa namun tetap dengan protocol kesehatan. Hal ini bisa berlangsung setidaknya sampai ditemukannya vaksin dari virus ini ataupun metode penyembuhan yang benar-benar jitu.

Terlepas dari kebijakan yang diambil pemerintah dalam menekan penyebaran virus, Melalui partisipasi public yang benar-benar aktif dan solid, dampak dari pandemi ini seharusnya bisa lebih diminimalisir.

Khususnya dari dampak ekonomi, partisipasi public yang bisa dilakukan adalah mendukung atau membeli produk-produk dalam negeri yang diharapkan supply chain nya juga diproduksi oleh bahan dan tenaga lokal. Jika konsep new normal berjalan namun public masih tidak pro terhadap produksi dalam negeri, semua umkm akan kesulitan menjual barang karena harus dipaksa bersaing dengan perusahaan yang punya modal lebih kuat, Sementara umkm harus tetap hidup dan kita tahu bersama bahwa sektor umkm adalah sektor penyumbang PDB terbesar dan menyerap tenaga kerja yang juga besar.

Membeli produk dalam negeri dalam situasi seperti ini sangat penting, selain membantu mereka agar tetap bisa produktif, umkm jadi punya tenaga lebih untuk bisa memproduksi barang-barang bagus dan berkualitas yang diharapkan bisa ekspor ke negara lain untuk menghasilkan devisa, membeli produk dalam negeri juga bisa memperluas lapangan pekerjaan atau minimal bertahan tidak menambah angka PHK lagi, meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan meningkatkan kualitas produksi.

Jika budaya membeli produk dalam negeri bisa digalakan dan direalisasikan oleh masyarakat Indonesia, bukan hanya menolong pada masa Pandemi Covid-19 saja, tapi juga bisa membuat Indonesia jadi lebih kuat dan lebih sejahtera pasca Covid-19 ini. Dengan hal sederhana, mulai dengan mendukung produk-produk dalam negeri.

Penulis: Rizky Fadillah
Co Founder Posthink.Idn
Ketua Ikatan Alumni Manajemen Pemasaran Telkom University

Bagikan: