Noka Coffee, Kaya Rasa Sarat Cerita di Setiap Cangkirnya

KESATUCO. Potensi biji kopi lokal di Indonesia memang tidak usah diragukan lagi. Ditanam dengan baik oleh para petani, sehingga menghasilkan rasa kopi yang enak dan berkualitas. Mengambil perspektif petani biji kopi, Noka Coffee menjadikan petani kopi sebagai inspirasi dari secangkir kopi yang dibuat.

Kedai kopi yang berlokasi di Jalan Bali Kota Bandung ini, menggandeng langsung petani-petani kopi dari seluruh Indonesia. 

Mengusung tema ‘The Infinite Story of Farmers’, Noka Coffee membawa cerita di balik petani kopi yang mereka angkat dan berikan sampai ke tangan pembeli. Founder Noka Coffee, Panji Abdiandra mengatakan, Noka mengajak para penikmat kopi untuk lebih dekat dan mengapresiasi petani kopi.

Dia juga ingin mempresentasikan kedai kopi yang tidak cuma punya nilai fungsional, tapi juga emosional.

“Kami ingin kopi Indonesia bisa komunikasi lewat produk. Sehingga tidak cuma karena racikan baristanya saja yang bikin kopi enak. Justru peran petani dalam menghasilkan biji kopi berkualitas pun harus diperhatikan,” katanya di kedai Noka Coffee Jalan Bali, Kota Bandung, Selasa (17/3/2020).

Biji Kopi dari Empat Petani di Jambi

Langkah awal dari rencananya, Noka Coffee menggunakan biji kopi asal Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi. Ada empat petani yang Panji pakai hasil tani kopinya, yaitu Pak Tumino (Kerinci), Mas Sur (Kerinci), Pak Agung (Sungai Penuh), dan Mak Santi (Sungai Penuh).

Nantinya, setiap dua bulan sekali akan diganti biji kopinya. Pembeli yang datang akan jadi juri untuk menentukan biji kopi dengan citarasa terbaik. Hal itu dilakukan untuk membuat para petani bersemangat menghasilkan biji kopi berkualitas tinggi.

Masing-masing petani ini membawa karakteristik berbeda pada biji yang dihasilkan. “The infinite story of farmers itu artinya kita ingin membangun kisah yang terbatas dari hulu ke hilir. Bagi anak muda di sana, pertanian kopi itu sebuah potensi yang sangat besar,” katanya.

Termasuk jenis specialty coffee, Panji mengungkapkan dia memutus tujuh rantai distribusi. Sehingga harga yang ditawarkan jauh lebih murah.

“Karena banyak mata rantai yang kita potong. Secara supply kita cut semuanya, jadi langsung beli ke petaninya,” ujarnya.

Untuk secangkir es kopi susu Noka Coffee dibanderol harga Rp 15 ribu saja.

Tiap Ladang Ada Keunikan Tersendiri

Disebutkannya, masing-masing ladang para petani ini memiliki keunikan tersendiri. Misalnya kopi Pak Tumino yang di tanam di Kayu Aro dengan ketinggian 1.600 mdpl tepat di kaki gunung api tertinggi, Gunung Kerinci.

Kemudian, Pak Tumino juga pernah jadi finalis di kontes kopi specialty Indonesia dan punya ciri khas sendiri. Ada juga Mak Santi, petani perempuan ini menanam biji kopi di Sungai Penuh yang berjarak sekitar 45 kilometer dari kebun Pak Tumino.

Mak Santi memiliki satu proses kopi yang sangat diidolakan yaitu honey process dan juga fine robusta wash, yang di tahun 2018 menjadi finalis kontes kopi specialty di Yogyakarta dan mendapat posisi runner up.(sab/ded)

Bagikan:
Left Menu Icon