Nilai Tukar Rupiah Melemah, Pengusaha Kurangi Ukuran Tahu-Tempe

KESATUCO. Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika membuat kekhawatiran pengusaha tahu dan tempe di Kabupaten Cianjur. Pasalnya, harga kedelai sebagai bahan baku utama tahu dan tempe bergantung pada nilai tukar rupiah terhadap dollar.

Ketua Koperasi Tahu Tempe (Kopti) Kabupaten Cianjur, Hugo, mengatakan, melemahnya rupiah ke angka Rp 16 ribu membuat harga kedelai naik dari yang semula Rp 7.000 menjadi Rp 8.200 per kilogram.

“Bahan baku kedelai kita masih bergantung pada impor, jadi harga kedelai bergantung pada nilai tukar rupiah terhadap dollar. Kenaikannya cukup signifikan, selisihnya sampai Rp1000 per kilogram,” kata Hugo, kepada wartawan, Rabu (25/3/2020).

Baca Juga:  Subholding Pertamina Melanggar Konstitusi dan Bikin Rugi

Menurut Hugo, kenaikan dengan selisih Rp 1.000 per kilogram dari harga normal merupakan yang tertinggi sejak beberapa tahun terakhir. Biasanya jika ada kenaikan hanya berkisar di Rp 200 atau maksimal Rp 300 per kilogram dari harga semula

“Ini hanya dalam waktu sepekan kenaikannya signifikan. Dan kemungkinan bisa terus naik dengan situasi merebaknya Covid-19 di Indonesia,” kata Hugo.

Kenaikan harga bahan baku, membuat 300 pengusaha tahu dan tempe di Cianjur kebingungan. Sebab pengeluaran produksi turut meningkat.

Baca Juga:  Ormas Kota Banjar Geruduk Mapolresta

Rencananya pengusaha menyesuaikan ukuran menjadi lebih kecil dibandingkan harus menaikan harga tempe dan tahu.

“Sementara ukuran disesuaikan sambil menunggu hasil komunikasi dengan pengurus di tingkat provinsi. Kalau terus naik kemungkinan tidak hanya ukuran tapi juga harga,” tuturnya.

Dia berharap pemerintah bisa mengambil langkah agar rupiah kembali menguat dan harga kedelai bisa turun.

Pedagang Rugi

Di sisi lain, Abdul (36) salah seorang pedagang tempe di Pasar Induk Pasirhayam, mengaku, Cianjur mengaku imbas melemahnya rupiah dan naiknya harga bahan baku kedelai membuat dia kesulitan serta merugi.

Baca Juga:  Biadab! Ayah di Sukabumi Merudapaksa Anaknya yang Masih di Bawah Umur

Sebab beberapa hari terakhir dia masih tetap menjual tempe dengan harga dan ukuran normal. Rencananya pedagang libur beberapa hari dan kembali berjualan dengan ukuran dan harga yang baru.

“Beberapa hari ini kami jual rugi, antara pengeluaran produksi dan harga jual tidak seimbang. Makanya akan tutup dulu sampai Jumat. Kemudian jualan lagi dengan ukuran dan harga baru,” kata dia.

Bagikan: