Ma’ruf Amin Sebut Ego Sektoral Jadi Penghambat Penanganan Covid-19

KESATUCO. Ego sektoral disebut menjadi salah satu penghambat dalam penanganan pandemik Covid-19.

Selain itu, masih adanya tumpang tindih regulasi dan kewenangan di instansi pemerintahan, menyebabkan penanganan kurang maksimal.

Hal tersebut diungkapkan Wakil Presiden Ma’ruf Amin saat menerima pimpinan Komisi Aparatur Sipil Negara (KASN) secara virtual melalui sambungan telekonferensi dari Jakarta, Selasa (15/9).

“Masih banyaknya regulasi dan kewenangan yang saling tumpang tindih itu terasa ketika ada pandemik, sehingga terjadi perlambatan-perlambatan eksekusi (kebijakan). Dan juga masih nampak adanya ego sektoral,” kata Ma’ruf Amin dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Rabu.

Baca Juga:  Banjir Bandang di Sukabumi Rendam Puluhan Rumah

Menurutnya, pandemik Covid-19 seharusnya dapat dimanfaatkan menjadi kesempatan untuk memperbaiki pola pikir dan perilaku birokratis yang menghambat berbagai kebijakan dan pelayanan kepada masyarakat.

“Juga di masa pandemik COVID-29 ini telah memberikan pelajaran kepada kita tentang perlunya mempercepat reformasi birokrasi kita,” ujarnya.

Baca Juga:  Pria di Bandung Lempari Masjid dengan Batu, Diringkus Polisi

Dua hambatan tersebut membuat berbagai kebijakan Pemerintah Pusat menjadi sulit diaplikasikan di kalangan masyarakat. Prosedur birokrasi yang masih rumit membuat eksekusi kebijakan lambat diterapkan, kata Wapres.

“Sehingga ada hambatan regulasi, hambatan prosedur dan hambatan birokrasi; jadi banyak keterlambatan-keterlambatan. Sehingga, perlu ada upaya-upaya untuk menghilangkan itu,” tutur-nya menjelaskan.

Selain ego sektoral dan tumpang tindih kewenangan tersebut, persoalan data juga masih menjadi masalah yang harus dibenahi bersama di birokrasi. Ma’ruf Amin mengatakan pengelolaan data di instansi pemerintahan belum optimal.

Baca Juga:  Banjir Bandang Juga Terjang 5 Desa di Cidahu Kabupaten Sukabumi

“Data kita masih sangat lemah, data kita masih banyak kabut. Data kita ada, tapi masih berkabut, belum begitu jelas, jadi juga harus kita bisa menghilangkan kekabutan pada data-data ini,” imbuh-nya. (red)

Bagikan: