Mantan Ketua KPK: Apa Kabar Harun Masiku dan Nurhadi?

KESATUCO. Mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Abraham Samad kembali mempertanyakan keseriusan KPK dalam menangani kasus yang melibatkan politisi PDIP Harun Masiku dan mantan Sekretaris Mahkamah Agung (MA), Nurhadi.

Sikap Abraham Samad ini bukan tanpa alasan. Menurut Ketua KPK periode 2011-2015 ini, kedua orang tersebut hingga kini masih belum ditemukan keberadaannya alias buron.

Seperti diketahui, Harun Masiku sudah ditetapkan menjadi tersangka sejak tanggal 9 Januari 2020 lalu. Tak lama kemudian ditetapkan masuk dalam daftar pencarian orang (DPO) pada tanggal 20 Januari 2020.

Sementara itu, Nurhadi sudah ditetapkan sejak tanggal 9 Januari 2019, dan masuk DPO pada tanggal 13 Februari 2020. Namun demikian hingga kini kedua orang tersebut tak kunjung ditemukan.

“Sehebat apa MH dan NHD jika dibandingkan Nazarudin, Novanto, A Widjojo, S Nursalim. Keempatnya berhasil ditangkap. Bahkan ada yang ditangkap di luar negeri. Tapi ini yang sembunyi di dalam negeri, mengapa susah sekali,” ungkap Abraham Samad melalui akun Twitternya, Senin (11/5/2020).

Menurut Abraham Samad, kasus Nurhadi dan Harun Masiku ini menjadi kunci pengukur kualitas penindakan KPK di periode ini. “KPK mau nangkap jutaan small fish pun, tapi kalau yang dua big fish ini tidak diringkus, sangat sulit menyebutnya berhasil,” jelasnya.

Seperti diketahui, sepak terjang Nurhadi dan Harun Masiku terbilang licin bagai belut dalam menghindari pengejaran penyidik . Tak heran jika keduanya hingga kini belum jua tertangkap.

Bahkan Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) sempat melaporkan adanya jejak keberadaan Nurhadi. Disebutkan, Nurhadi telah menyuruh orang kepercayaannya menukar uang di money changer di Jakarta. Dalam sepekan, Nurhadi disebutkan telah menukar uang hingga Rp 3 miliar.

“Awal minggu ini saya mendapat informasi teranyar yang diterima terkait jejak-jejak keberadaan Nurhadi berupa tempat menukarkan uang asing ke rupiah,” kata Koordinator MAKI, Boyamin Saiman, kepada wartawan, Minggu (10/5/2020).

Ada dua tempat money changer di Jakarta yang biasa digunakan oleh Nurhadi untuk menukarkan uang dolar miliknya. Yaitu di daerah Cikini dan Mampang.

“Biasanya tiap minggu menukarkan uang dua kali sekitar Rp 1 miliar untuk kebutuhan sehari-hari dan akhir pekan lebih banyak sekitar Rp 1,5 miliar untuk gaji buruh bangunan serta gaji para pengawal,” ujar Boyamin.(red)

Bagikan:
Left Menu Icon