Kota Bandung Kembangkan Pertanian Terintegrasi

KESATUCO. Semakin berkurangnya lahan pertanian membuat Pemerintah Kota Bandung terus berinovasi. Pertanian terintegrasi atau integrated farming disebut jadi solusi agar bibit tanaman bisa tetap ditanam di tengah perkotaan. 

Wali Kota Bandung Oded M Danial menuturkan, ide pertanian terintegrasi datang dari Dinas Pangan dan Pertanian (Dispangtan) Kota Bandung. Nantinya, program yang dinamakan pertanian terintegrasi ini tidak cuma menanam padi saja, tapi berbagai kebutuhan pangan.

“Ini merupakan program Dispangtan Kota Bandung, program pertanian terintegrasi. Ada padi, rumput, jagung, pisang, ikan, dan segala macam,” kata Oded di Bandung, Rabu (23/9/2020).

Sistem pertanian terintegrasi ini adalah upaya terobosan dalam mempercepat adopsi teknologi pertanian, karena merupakan pengembangan model percontohan dalam percepatan alih teknologi kepada masyarakat pedesaan.

Baca Juga:  Seluruh Paslon di Sukabumi Langgar Protokol Kesehatan

Oded juga menyampaikan bahwa semua pertanian ini terintegrasi. Seperti padi dimakan oleh manusia, daun atau jerami padinya diberikan ke kambing. Bahkan sisa padinya pun bisa menjadi pakan ayam atau unggas lainnya, jadi tidak ada yang terbuang.

Tidak cuma tanaman, ada juga kolam ikan di UPT Pembibitan Tanamannya Pangan Holtikultura dan Peternakan Bandung. “Kemudian ada ikan. Airnya dari ikan itu nanti disalurkan ke sawah. Sehingga sawah bisa terairi. Lahan ini juga bisa dijadikan ekowisata,” ujarnya.

Baca Juga:  Wali Kota Tasikmalaya Ditahan KPK, Sekda: Roda Pemerintahan Tak Terganggu
Pembibitan dan Pembenihan

Sementara itu, Kepala Dispangtan Kota Bandung Gin Gin Ginanjar menyampaikan, lokasi tersebut untuk dijadikan pembibitan dan pembenihan tanaman pangan.

“Ini lokasi UPT Pembibitan Tanaman Pangan Holtikultura dan Peternakan Kota Bandung. Di sini fungsinya melakukan pembibitan dan pembenihan terhadap tanaman pangan dan holtikultura termasuk peternakan,” ujar Gin Gin.

Ia menambahkan, pihaknya akan mengembangkan pertanian terpadu yang terintegrasi. Pasalnya, setiap hari lahan pertanian terus berkurang.

“Kita coba kembangkan lebih lanjut pertanian terpadu atau terintegrasi. Kita lakukan karena Bandung tidak memiliki sawah, kalau pun ada itu sangat terbatas,” ucapnya.

Baca Juga:  Wali Kota Tasikmalaya Ditahan KPK, Sekda: Roda Pemerintahan Tak Terganggu

Dengan keterbatasan ini, pihaknya mencoba memaksimalkan fungsi lahan termasuk sumber daya lainnya. “Ini lahan pertanian, termasuk sawah tidak terairi secara rutin. Di sini kita coba pertanian terpadu, sehingga penggunaan itu lebih terarah,” ujarnya.

Untuk memanfaatkan lahan, Kota Bandung sedang mengembangkan lahan yakni Buruan Sae.

“Pekarangan atau lahan sekitar itu menjadi ketahanan pangan bagi keluarga. Luas dan fungsinya sama, jadi ketahanan oangan sehingga bisa bermanfaat. Sisi kebutuhan bisa terpenuhi, sisi ekonomi ada nilai tambah,” ucapnya. (sab/ded)

Bagikan: