Kopi Garut Sukses Mendunia, APEKI Perjuangkan Resi Gudang Kopi

KESATUCO. Beberapa tahun terakhir ini, kualitas Kopi Garut melambung ke dunia internasional. Rasa dan aroma kopi dari Garut menjadi pembahasan di kalangan pecinta kopi, baik ditingkat lokal, nasional bahkan di tingkat internasional.

Bahkan, karena kulitas kopi di Garut dikenal memiliki cita rasa yang khas, sejumlah turis dari berbagai negara berbondong-bondong datang ke salah satu tempat produksi kopi. Mereka datang untuk menjawab rasa penasaran tentang kulitas Kopi Garut.

Alhasil, para turis ini mendapatkan kepuasan yang lebih. Selain bisa mencicipi nikmatnya Kopi Garut, mereka juga bisa belajar tentang pertanian kopi. Mereka dibawa ke kelompok tani, ke berbagai tempat sebagai perkebunan kopi.

Penikmat Menjadi Peminum Kopi

Tepat diakhir tahun 2019, pergeseran penikmat kopi menjadi peminum kopi mengalami perubahan yang signifikan. Kopi bukan hanya sekedar minuman yang bisa dinikmati oleh kalangan tertentu, namun juga mulai memasyarakat. Masyarakat yang hanya menikmati Kopi Garut hasil produksi tertentu, kini sudah menjadi kebutuhan atau kebiasaan sehari-hari.

Ketua APEKI (Asosiasi Pengusaha Kopi Indonesia) Kabupaten Garut, Ir Sopyan Hamidian mengatakan, saat ini pergeseran peminum menjadi penikmat kopi di Kabupaten Garut mengalami perubahan signifikan. Mantan Kabid Binus (Bina Usaha) Dnas Perkbunan Kabupaten Garut ini mencatat, bulan Desember tahun 2019 di Garut sudah berdiri 79 Kafe dan 64 pembuat kemasan.

“Tahun 2015 lalu, yang namanya Kafe penjual kopi itu bisa dihitung dengan jari, begitupun dengan pembuat kemasan. Tetapi, dari tahun 2017 hingga sekarang sudah menjamur pedagang Kopi Garut. Ini Perkembangan yang luar biasa. Selain akan menguntungkan petani kopi, ini juga akan berdampak positif bagi perkenomian masyarakat secara luas,” ujar Sopian saat berbincang dengan Kesatu.co di Caffe Areniss, Jalan Patriot, Garut.

6.015 Hektar Kebun Kopi

Selain itu, Sopyan Hamidian juga mencatat, luas kebun kopi juga mengalami peningkatan yang signifikan yakni sekitar 6.015 hektar di seluruh Garut. Dari jumlah lahan yang ditanami kopi tersebut, 3.600 hektar diantaranya sudah menghasilkan.

“Lahan yang ditanami kopi juga bertambah. Paling banyak di daerah Kecamatan Cikajang, Pakenjeng, Cisurupan, Wanaraja, Samarang, Pasirwangi. Namun secara keseluruhan sebanyak 28 kecamatan mengalami peningkatan yang baik.Ini sebuah perkembangan yang luar bisa,” papar Sopyan.

Sopyan menjelaskan, dari berbagai perkembangan positif terkait kopi di Kabupaten Garut dipengaruhi oleh pasar yang terbuka luas, baik pasar lokal maupun internasional. “Keistimewaan pada bisnis kopi adalah, ketika komoditas lain harga mengalami penurunan, hal itu tidak berlaku pada kopi. Harga kopi justru malah sebaliknya. Walaupun kuantitas bertambah namun harga malah meningkat,” ujarnya.

Saat ini, sambung Sopyan, ketika Cery dalam kondisi panen masih sedikit atau Papacal, namun harga kopi masih berada di kisaran Rp 6.000 sampai 7.000. Ketika musim panen raya sekitar di bulan Juni, Juli dan Agustus, maka harga kopi bisa mencapai Rp 9.000 sampai 10 ribu per Kg,” ujarnya.

“Di musim paceklik maupun panen, harga kopi tetap menguntungkan bagi petani. Apabila dilihat dari harga Green Been di tingkat nasional kisaran harganya bisa mencapai Rp 70 sampai 75.000/kg,” tambahnya.

Tantangan Bagi APEKI

Ir Sopyan Hamidian berpendapat, dengan peningkatan jumlah lahan berikut hasil produksi kopi di Garut, menjadi tantangan bagi APEKI Garut untuk mendatangkan buyer ke Garut, untuk bekerjasama dengan koperasi yang menangani kopi.

Alasan Sopyan bisa bekerjasama dengan buyer, karena buyer  ini akan membantu proses market dan memotong mata rantai yang selama ini cukup dipandang merugikan petani. Harga penjualan kopi bisa dinikmati lebih besar oleh petani. “Selama ini harga penjualan kopi tidak seutuhnya dirasakan petani,” ujarnya.

Sopyan berharap, untuk menjaga kestabilan harga, maka diharapkan pihak pemerintah bisa membuat resi gudang khusus untuk kopi. Karena resi gudang ini akan menampung green been dan menjadikannya tahan lama. Selain itu, bagi petani yang bekerjasama dengan resi gudang yang dikoordinir oleh pengelola resi gudang, akan mendapat berbagai keuntungan.

“Apabila kopi ini disimpan di Resi Gudang, maka kopi tersebut bisa menjadi lebih awet. Yang mengendalikan jual beli kopi menjadi satu pintu, yaitu pengelola Resi Gudang. Selain itu, bagi petani yang memiliki stok kopi di Resi Gudang Kopi, bisa menjadikan jaminan ke perusahaan perbankan apabila membutuhkan modal,” jelasnya.

Harapan ini, ujar Sopyan, sudah ia sampaikan melalui rapat-rapat di internal APEKI maupun di pemerintahan tingkat Kabupaten Garut dan bahkan ditingat provinsi Jabar. Bahkan dengan rapat di Bank Indonesia (BI), ketika rapat tentang CSR (Coorporate Sosial Responsibility).

“Keinginan kami agar di Garut dibuat Resi Gudang Kopi sudah saya sampaikan ke berbagai pihak. Mudah-mudahan ini bisa terealisasi secepatnya,” ungkapnya.

Sopyan menambahkan, APEKI Garut juga meminta BI Provinsi Jabar untuk memberikan bantuan penyaluran bantuan menggunakan CSR. “Alhamdulillah, anggarannya sudah digunakan untuk pembangunan penjemuran Kopi di Cisurupan dan daerah lainnya bagi kelompok tani kopi. Selain itu, ada juga kegiatan pembinaan lainnya seperti peningkatan kualitas,” pungkasnya.

Tea Coffee Association Europe

Owner Mahkota Java Coffee bersama Mr Eliot. (FT: ist)

Owner Mahkota Java Coffe, Hari Yuniardi dalam berbagai kesempatan, menceritakan tentang kunjungan sejumlah orang ahli citarasa kopi dunia ke tempat Mahkota Java coffee yang notabene tempat tinggalnya.

“Dalam beberapa waktu,  Mahkota Java Coffee mendapatkan banyak kunjungan dari Spesial Tea Coffee Association Europe, tepatnya tanggal 27 Juli 2016. Setelah kedatangan mereka, lalu pada tanggal 28 Juli kami juga kedatangan serta Empat orang dari Korsel (korea selatan),” imbuh Mas Hari sambil membawa sejumlah foto yang ia dokumentasikan.

Menurut Hari, empat orang dari Korsel ini ternyata ahli citarasa kopi Cupping Taste dari Korsel. Mereka mengatakan selama tiga tahun dan tiga kali musim panen Arabika di Jabar, baru kali ini menemukan kopi rasa arbika yang benar.

“Kunci dari citarasa kopi itu diawali dari pengolahan hulu sampai hilir. Pengolahannya harus benar-benar baik. Mulai dari pemilihan buah kopi (ceri), biji kopi mentah (green been) dan gabah (parchment) harus diolah dengan baik. Kalau salah dari awal, maka akhirnya akan salah sampai akhir,” ujarnya.

Tanggal 1 Agustus 2016, Mahkota Java Coffee juga mendapat kunjungan dari Swedia. Mr Elliot selaku Cafe Owner from Swedia datang ke Mahkota Java Coffee bertujuan untuk memastikan kontinuitas pasokan kopi di tempatnya. Pasalnya, selaku pengusaha kopi yang berkembang sedang berkembang di negaranya mereka membutuhkan pasokan kopi yang terjamin ketersediaannya. “Saya sangat bersyukur karena kedatangan para ahli citarasa kopi dari berbagai Negara. Apa yang saya alami beberapa tahun lalu sebelumnya tidak pernah terbayangkan,” katanya.

Hari menambahkan, beberapa tahun lalu, pada acara kunjungan Spesial Tea Association ke Mahkota Java Coffee dikunjungi Camat Bayongbong, UPTD Dinas Industri dan Perdagangan (indag), UPTD Dinas Perkebunan (Disbun), Kadis Disbun, Kabid Bina Usaha Disbun Kabupaten Garut, Ir Sofyan Hamidian, serta KBRI Agriculture Attavhe At Indonesia Emmbasy, Catur Sugiyanto selaku perwakilan dari Kementerian Pertanian RI waktu itu.

“Alhamdulillah, tahun demi tahun peningkatan jumlah kopi yang diiringi dengan pemesanan dari berbagai negara terus berkembang. Saya bangga menjadi bagian dari warga Garut, karena Garut memiliki potensi yang luar biasa. Saya juga berterimakasih kepada pemerintah, para petani kopi dan semua pihak yang terus berjuang memajukan hasil pertanian Garut, khususnya kopi,” papar Hari. (aa)

 

 

Bagikan:
Left Menu Icon