Koordinator MAKI Serahkan Dolar Tutup Mulut ke KPK

KESATU. Koordinator Masyarakat Antikorupsi Indonesia (MAKI) Boyamin Saiman menyerahkan uang sebanyak SGD 100 ribu ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Boyamin merasa tidak berhak atas uang tersebut.

“Kalau dirupiahkan sekitar Rp 1 miliar lebih dikit lah ya. Itu saya serahkan, karena yang utama alasannya adalah saya merasa tidak berhak atas uang itu,” kata Boyamin di Gedung Merah Putih KPK, Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Rabu 7 September 2020.

Uang itu diberikan beberapa orang pada 21 September 2020. Boyamin menolak pemberian itu namun orang-orang tersebut menaruh uang di dalam tas miliknya. Uang diberikan dengan permintaan supaya Boyamin tidak lagi membongkar inisial-inisial yang terlibat dalam skandal Djoko Tjandra.

Baca Juga:  Wali Kota Tasikmalaya Ditahan KPK, Sekda: Roda Pemerintahan Tak Terganggu

Boyamin mengatakan kesulitan mengembalikan uang itu sehingga memilih menyerahkannya ke KPK. Ia menegaskan uang bukan berasal dari nama-nama yang saat ini sudah ditetapkan tersangka baik oleh Polri maupun Kejaksaan Agung.

“Bukan dari Djoko Tjandra, bukan dari Prasetyo Utomo, bukan dari Anita Kolopaking, bukan dari Pinangki. Kemudian Napoleon Bonaparte, Tomy Sunardi dan Andi Irfan Jaya, itu tidak terkait sama sekali,” tuturnya.

Baca Juga:  Seluruh Paslon di Sukabumi Langgar Protokol Kesehatan

Dalam kasus Djoko Tjandra, Boyamin memang kerap membantu aparat penegak hukum membongkar nama-nama yang terlibat dalam kasus Djoko Tjandra. Sejumlah inisial yang terkait kasus tersebut diungkapnya ke publik. Beberapa waktu lalu Boyamin sempat melaporkan inisial Kingmaker, dengan kata kunci Bapakku-Bapakmu ke KPK.

“Ini tampaknya karena dapat amanah untuk memberikan dia langsung aja tidak ada kata-kata apa-apa. Tapi memang kemudian belakangan tampaknya dari komunikasi itu, bahasanya sedikit saya memahami itu, kenapa saya ke KPK, kalau bisa dikurangin dong beritanya, gitu loh.”

Baca Juga:  Seluruh Paslon di Sukabumi Langgar Protokol Kesehatan

“Berita apa? berita yang di sini kan terkait saya melaporkan minta supervisi, minta penyelidikan baru dan terakhir kan diundang KPK oleh tim humas bahkan ada pimpinan untuk memverifikasi dokumen yang saya serahkan itu,” demikian kata Boyamin Saiman.(sak)

Bagikan: