Kisah Mantan Karyawan Perbankan Buka Usaha Tas Pinggang Usai Terkena PHK

KESATUCO. Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) oleh perusahaan mungkin salah satu hal yang sangat tidak diinginkan oleh seorang karyawan.

Jika itu terjadi, laju keuangan dipastikan akan terhenti seketika. Sedangkan kebutuhan, terlebih bagi yang sudah memiliki keluarga, tidak akan bisa diberhentikan. Sementara penghasilan semakin hari semakin berkurang.

Kisah seorang karyawan korban PHK ini malah berhasil meningkatkan finansialnya.

Adalah Ade Aryandi, warga Desa Mekarwangi, Kecamatan Cisayong, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat.

Pria berusia 42 tahun ini sebelumnya merupakan sebuah perbankan dengan status pegawai kontrak. Namun belakangan ia terkena PHK seiring merebaknya pendemi corona di Tasikmalaya, Jawa Barat.

Meski sempat terpuruk, kini ia bangkit berusaha produktif di rumah bersama anaknya yang masih duduk di sekolah dasar. Keduanya memanfaatkan libur sekolah dengan membuat tas pinggang untuk dijual secara online.

Kini, aktifitasnya lebih banyak dihabiskan di sebuah ruang bekas gudang yang disulap menjadi ruang kerja.

Sejak pemutusan kontrak kerja pada tanggal 8 April 2020 lalu sebagai pegawai debitur sebuah perbankan, ia sudah tidak bekerja di luar. Perusahaan tempatnya bekerja memutus hubungan kerja secara sepihak, dengan alasan perusahan mengalami pailit sebagai dampak pandemi corona.

Ade awalnya sempat terpuruk dan resah, dengan kondisi ekonomi keluarganya. Pemutusan kerja dari perusahan membuatnya terpukul.

Namun dengan bekal keterampilan menjahit, bapak tiga orang anak ini, akhirnya bangkit dan memutuskan untuk tetap produtif dan mencoba peruntungan dengan kembali memanfaatkan keahlianya.

Dibantu anak sulungnya, sambil memanfaatkan masa libur selepas belajar di rumah, Ade membuat beragam tas pinggang, untuk dewasa maupun anak anak.

“Pemutusan kerja pas tanggal 8 April, pencapaian target bulan Maret kurang, akibat para debitur kesulitan bayar dampak pandemi covid-19,” kata Ade Ayrandi.

Menurut Ade, karena faktor ekonominya terhambat, efeknya kewajiban meraka tidak terpenuhi. “Saya dapat telepon dari atasan, bahwa tidak bekerja lagi per tangal 8 April, akhirnya saya coba – coba ada keahlian sedikit sedikit membuat ini,” papar Ade.

“Cuma kendalanya bahan sama penjualan, ya sambil nunggu kondisi stabil kita bikin ini siapa tau suatu saat bisa terjual,ada yang beli orang dekat satu dua mah,” tutur Ade.

Dalam satu hari, Ade dan anaknya mampu membuat 5 hingga 8 tas pinggang. Kemudian produk itu dijual secara online.

Namun karena hasil produksinya tidak banyak dikenal, tidak banyak pemesan, hanya beberapa buah saja bisa terjual itupun dari tetangga dan kerabat dekat saja.

Ade berharap, pandemi ini segera berakir, agar kini usaha barunya bisa dikembangkan lebih leuluasa. (*)

Bagikan: