Kisah Haru Mayor Emang, Pejuang Kemerdekaan Asal Purwakarta Yang Pernah Ditembak Belanda Hingga 8 Kali

Mempertahankan Kemerdekaan Dari Serangan Agresi Militer II

KESATUCO. Badan masih terlihat tegap serta senyum ramahnya terpancar dari Emang bin Mali (97) pejuang kemerdekaan asal Kampung Benteng, Desa Benteng RT 03/01, Kecamatan Campaka, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat.

Tidak ada yang tahu,  di sekujur tubuh kakek lima anak ini, ada delapan luka bekas tembakan senjata Belanda ketika mempertahankan kemerdekaan dari serangan agresi militer II.

Sambil duduk disebuah kursi kayu, Emang kembali mengingat dirinya saat berjuang ketika agresi militer Belanda ke II. Dirinya bercerita menjadi tentara Republik Indonesia (TRI). Saat itu, pangkat Emang masih Pratu. Emang bertugas di Batalyon 1 Resimen 7 Purwakarta, atau masuk dalam pertahanan TRI wilayah Bandung.

Tepatnya pada Tahun 1948 atau 3 tahun pasca kemerdekaan, agresi militer kedua pecah. Emang bersama puluhan tentara lainnya terlibat baku tembak dengan pasukan Belanda, di perkebunan karet yang ada di Kalijati, Subang.

“Saat itu, lagi memantau pos belanda, bersama tiga orang lainnya terkena berondongan senapan belanda, Bahkan, tiga teman saya ini gugur. Hanya abah saja yang hidup,” ujar Emang, kepada Kesatu, Jumat (16/8).

Ternyata, yang gugur dalam pertempuran itu tak hanya tiga kawan Emang. Tetapi satu kompi lainnya tertembus timah panas milik Belanda. Bahkan Emang sendiri tertembus 8 tembakan terkena punggung, tangan, kaki termasuk kepalanya. Beruntung peluru mengenai kepalanya tidak separah yang didapatkan pada kaki kirinya.

Dengan delapan peluru yang bersarang dirinya pasrah kepada Tuhan, meskipun begitu darah segar terus menutupi wajahnya. Bahkan dengan menahan sakit dirinya hanya bisa tergeletak di perkebunan karet di Kalijati Subang.

Doanya terkabul, ketika itu ada dua orang perempuan melintas, dengan suara paraunya dirinya berteriak meminta tolong. Bahkan meminta kedua orang perempuan tersebut untuk membawakan air minum dan menutup wajahnya dengan dedaunan.

“Do’a abah terkabul. Saat tak berdaya itu, ada dua orang perempuan melintas. Abah, minta tolong kepada dua perempuan itu,” ujarnya.

Awalnya kedua perempuan itu ketakutan apalagi dengan kondisi Emang yang bersimbah darah, kedua perempuan tersebut memberi air yang dibawa dengan daun pisang. Setelah meminum air itu, Emang minta wajahnya ditutupi daun. Dengan alasan, supaya dingin.

Bukannya dingin, ternyata Emang semakin kepanasan ketika wajahnya tertutup daun pisang tersebut. Tak berapa lama, jantung Emang berdetak kencang. Pasalnya, pasukan Belanda melakukan patroli, untuk memastikan bahwa para tentara Indoensia ini telah gugur.

“Saat patroli itu, sejumlah pasukan Belanda, menusuk-nusukan bayonet ke perut abah. Beruntung abah tidak memberikan reaksi, termasuk saat sepatu Belanda itu menginjak wajah abah. Jadi, abah bisa selamat, karena dikira sudah tewas,” ujarnya.

Menjelang maghrib, Emang baru mendapatkan pertolongan. Salah seorang warga, yakni Main, yang merupakan mantan pegawai kakeknya, yang lantas membawanya untuk dievakuasi ketempay yang aman.

Setelah itu, kakek lima anak ini tak sadarkan diri selama 40 hari. Dalam ketidaksadarannya, Emang sering menyeracau dengan menggunakan bahasa Belanda. Bahkan, ketika sadar, makannya juga inginnya roti, bukan nasi ataupun singkong.

Seiring dengan berjalannya waktu, Emang mulai sembuh. Namun, karena luka tembak itu, dia akhirnya pensiun dini jadi tentara. Bahkan diusia 25 tahun dirinya pensiun, hanya 5 tahun sebagai TRI.

Atas perhatian dari Presiden Soekarno dirinya mendapatkan kenaikan tiga tingkat terutama untuk prajurit yang cacat.

“Prajurit yang cacat seumur hidup, pensiun dini dan mendapat kenaikan pangkat tiga tingkat. Jadi, abah pensiun dengan pangkat sersan mayor (Serma), waktu itu diberikan oleh presiden soekarno,” ujarnya.

Setelah pensiun, Emang beraktivitas menjadi petani. Kemudian, menikah dan memiliki lima anak. Kini, Emang hidup berdua dengan isteri barunya, sebab isteri pertamanya sudah meninggal dunia.

Akan tetapi, selama menjadi pensiunan tentara hingga saat ini, Emang belum sekalipun dilibatkan dalam kegiatan HUT RI. Termasuk mengikuti upacara yang diadakan Pemkab Purwakarta.

“Belum pernah, abah malu dan gak usah ah,” katanya diikuti senyumnya.

Bagi Emang keinginannya tidak muluk – muluk, apalagi bagi dirinya pensiunannya sebagai TRI, tiap bulan mendapatkan Rp. 2,4 juta. Bukan hal finansial dirinya hanya menginginkan pengakuan terutama dari pemerintah daerah.

“Abah mah biasa aja, yang penting diakui bahkan kemarin pak Selain Dedi Mulyadi. Ini, jadi kebanggaan bagi abah,” jelasnya.

Harapan dan pesan Emang pun sempat terucap dari mulutnya, menurutnya memperjuangkan kemerdekaan itu tidak mudah, apalagi harus mengorbankan diri dan jiwa.

“Dulu kalau cinta negara ini suka ditanya mau jadi Belanda atau Indonesia,semua anak muda kompak kita Indonesia siap berjuang,” tegasnya. [dds/hit]

Bagikan:
Left Menu Icon