Khawatir Terjadi Longsor Susulan, Puluhan Warga Tasikmalaya Terpaksa Bertahan di Tenda Pengungsian

KESATUCO. Di sebuah tenda pengungsian terdengar kegaduhan sejumlah bocah dan balita. Mereka bermain dan berlarian sambil menerima suapan nasi dari sang ibu.

Sementara di luar rintik hujan mulai turun, membuat para pengungsi warga Desa Wangunsari, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat ini tampak cemas.

Mereka tidak dapat beristirahat dengan tenang karena khawatir barang-barang miliknya yang di tinggal di rumah mereka.

Potret duka pengungsi Desa Wangunsari ini merupakan secuil penderitaan korban terdampak bencana tanah longsor yang terjadi pada Senin (12/10/2020)Lalu.

Mereka terpaksa memilih tinggal di tenda pengungsian karena takut terjadi longsor susulan.

Hingga Kamis (15/10), puluhan warga terdampak kejadian tanah longsor masih mengungsi.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Tasikmalaya, Irwan mengatakan, berdasarkan data di lapangan terdapat 16 kepala keluarga (KK) atau 51 jiwa mengungsi.

Baca Juga:  Seluruh Paslon di Sukabumi Langgar Protokol Kesehatan

Mereka sementara dipusatkan di tenda pengungsian yang didirikan oleh petugas di sekitar lokasi tanah longsor.

“Kondisi pengungsi aman di tenda pleton,” kata dia saat dihubungi wartawan Kamis(15/10/2020).

Dia menambahkan, tanah longsor yang terjadi di wilayah itu pada Senin pagi disebabkan hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur wilayah Kabupaten Tasikmalaya sejak sehari sebelumnya.

Akibat kejadian itu, sebanyak lima rumah rusak dan enam lainnya terancam. Total terdapat 11 rumah di Desa Wangunsari, Kecamatan Bantarkalong, yang terdampak tanah longsor.

Warga yang tinggal di rumah yang terancam ikut mengungungsi lantaran takut tertimpa longsor susulan.

Baca Juga:  Wali Kota Tasikmalaya Ditahan KPK, Sekda: Roda Pemerintahan Tak Terganggu

Irwan menambahkan, pihaknya sudah mendistribusikan bantuan logistik untuk kebutuhan makan para pengungsi.

Selain bantuan logistik, BPBD juga mendistribusikan kebutuhan sehari-hari warga selama di pengungsian seperti selimut dan lainnya.

“Bantuan dari para relawan juga sudah datang. Namun, sekarang pengungsi masih membutuhkan selimut dan pakaian hangat. Sebab di sana mereka tidur di tenda,” kata dia.

Sementara untuk penanganan rumah terdampak longsor, kata Irwan, pihaknya akan segera berkoordinasi dengan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) untuk melakukan kajian terkait kelayakan tanah untuk permukiman.

Jika wilayah itu dianggap tak layak untuk ditinggali, warga akan direlokasi ke tempat yang aman.

Menurut dia, kajian juga harus dilakukan di tempat tujuan relokasi. “Jangan sampai tanah relokasi juga berpotensi bencana,” jelas dia.

Baca Juga:  Wali Kota Tasikmalaya Ditahan KPK, Sekda: Roda Pemerintahan Tak Terganggu

Irwan menambahkan, berdasarkan keterangan dari perangkat desa setempat, kejadian longsor di wilayah itu juga pernah terjadi beberapa tahun lalu. Warga yang terdampak longsor juga sudah direlokasi ke tanah desa.

Namun, menurut dia, warga justru kembali ke lokasi sebelumnya karena dekat dengan sawah. “Memang dasarnya susah diberi pengertian,” terang dia.

Berdasarkan data BPBD Kabupaten Tasikmalaya, selama 12-14 Oktober 2020 terjadi 45 kejadian bencana di wilayahnya. Sebanyak 32 kejadian tanah longsor, 12 titik banjir, dan satu kebakaran rumah. Hingga saat ini, petugas BPBD Kabupaten Tasikmalaya masih terus melakukan penanganan bencana di beberapa titik terdampak tanah longsor. (din)

Bagikan: