Kekritisan Kartini Awali Munculnya Terjemahan Alquran Bahasa Jawa

KESATUCO. 21 April 1879 adalah hari lahirnya RA. Kartini, salah satu Pahlawan Nasional Indonesia yang dikenal sebagai pelopor emansipasi wanita pribumi.

Pada masa itu, tidak semua perempuan bisa mendapatkan pendidikan. Hanya perempuan dari golongan bangsawan yang bisa merasakan duduk di bangku sekolah.

Kartini yang merasa perempuan di Indonesia tidak memiliki kebebasan dan tidak mendapatkan hak-hak nya dengan layak, dengan lantang memperjuangkan hak-hak perempuan. Terutama dalam pendidikan.

Nama ‘Kartini’ masih harum sampai hari ini. Sehingga dapat kita lihat bahwa perjuangan Kartini benar-benar berarti dan memiliki dampak baik untuk perempuan-perempuan Indonesia sampai hari ini.

Harus kita ingat juga, bahwa Kartini adalah seorang muslimah. Pada saat itu Alquran tidak memiliki terjemah dalam bahasa Jawa karena saking hati-hatinya ulama dalam mengartikan ayat suci Alquran. Sehingga orang muslim di Jawa saat itu hanya membaca Alquran tanpa tahu artinya.

Namun pertanyaan kritis Kartini kepada Kiai Sholeh Darat membuat Kiai Sholeh Darat akhirnya memutuskan untuk menulis terjemahan Alquran dalam bahasa Jawa dari juz 1 sampai juz 13 yang menjadi kado pernikahan Kartini dari Kiai Sholeh Darat.

“Kiai, perkenankan saya bertanya bagaimana hukumnya apabila seorang berilmu menyembunyikan ilmunya?” ujar Kartini membuka dialog.

“Mengapa Raden Ajeng bertanya demikian?” ucap Kiai Sholeh balik bertanya.

“Kiai, selama hidup ku, baru kali ini aku berkesempatan memahami makna surat Al-Fatihah, surat pertama dan induk Alquran. Isinya begitu indah, menggetarkan sanubariku,” ujar Kartini setelah mendengar kajian yang disampaikan Kiai.

“Bukan buatan rasa syukur hati ini kepada Allah. Namun, aku heran mengapa selama ini para ulama melarang keras penerjemahan dan penafsiran Alquran ke dalam Bahasa Jawa. Bukankah Alquran adalah bimbingan hidup bahagia dan sejahtera bagi manusia?”

Dari sinilah, Alquran tidak hanya dibaca namun mulai bisa dimengerti oleh muslim di Jawa pada saat itu.

Berkat Kartini kini, banyak perempuan-perempuan hebat di Indonesia yang bisa berdiri di kaki mereka sendiri. Mereka bisa mengenyam pendidikan tinggi tanpa mengenal golongan sosial. Bisa bebas berekspresi dan berpendapat tanpa takut dengan pandangan orang.

Semoga semakin banyak kartini-kartini selanjutnya yang meneruskan perjuangannya dalam kemerdekaan perempuan-perempuan pribumi. (*)

(Nida Ul Karimah, Staf Deputi Kajian Perempuan Anak Keluarga Bidang Perempuan dan Ketahanan Keluarga DPD PKS Karawang)

Bagikan: