Kearifan Lokal: Fondasi Pancasila

Oleh: Ono Surono, S.T. (Ketua DPD PDI Perjuangan Jawa Barat)

DI Jabar, kita mengenal tradisi kesenian wayang golek yang menjadi media menyampaikan segala kebaikan nilai-nilai kearifan lokal peradaban Sunda. Dalam hal gotong-royong di Sunda kita mengenal beas perelek, sebuah tradisi turun temurun tentang sikap berbagi beras untuk tetangga. Di Banten, kita mengenal tradisi masyarakat Kanekes dengan segala nilainya merawat alam secara bersama-sama.

Hingga di Polewali Mandar Sulawesi Barat kita mengenal kebersamaan warga bergotong royong saat menggotong rumah atau kapal hanya lewat pengeras suara‎

‎Banyak sekali nilai tradisi serupa di seluruh pelosok tanah air mewarnai ke-Indonesia-an kita berabad-abad lamanya. Belum lagu identitas warga negara yang beragam namun hidup rukun.

Itulah kenapa bapak bangsa kita, setengah abad lalu, sepakat dengan Pancasila. Karena hakikatnya, Pancasila adalah gambaran tentang segala hal yang hidup di dan tumbuh di tanah, air dan udara republik ini.

Baik itu tata nilai yang berkembang dan mengatur masyarakat hingga keberagaman masyarakatnya itu sendiri.

Karena Pancasila itu ruh dari republik ini, maka dari itu, tentu saja bahwa Pancasila bukan sebuah kooptasi politik praktis untuk melanggengkan kekuasaan atau menyudutkan kelompok lain.

Jangan sampai kearifan lokal terkikis modernisasi

Pancasila adalah tentang cara kita berbuat baik dengan sesama dan berhubungan dengan yang Kuasa. Tentang hidup rukun dengan perbedaan, tentang musyawarah dan tentang kebaikan bersama. Sekali lagi, Pancasila bukan jargon politik, tapi tok. Tentang kita mengisi hari-hari kita dengan segala hal baik di tanah, air dan udara yang kita hidup di republik ini.

‎Kemajuan teknologi menjadi tantangan bagi keberlangsungan kearifan lokal.  Tantangan bagi kita adalah bagaimana mempertahankan kearifan lokal di tengah modernisasi. Karena kearifan lokal dari Sabang sampai Merauke‎ itu, fondasi dari Pancasila.

Jangan sampai kearifan lokal terkikis modernisasi karena itu bisa menghilangkan identitas kita, menghapus kebersamaan dan cara kita bergotong royong.

Sehingga perlu kiranya ada perhatian lebih lagi kepada keberlangsungan kearifan lokal dengan terus menyelenggarakan kegiatan-egiatan untuk memperkenalkan nilai-nilai budaya yang ada kepada masyarakat secara luas. Khususnya bagi kelompok milenial yang kelak akan meneruskan tongkat estafet bangsa dan negara Indonesia.‎ Karena “menghidupkan budaya adalah ber-Pancasila”.

Bagikan: