Ke Miftahul Ulum Purwakarta, Gus Ahad Dengar Curhatan Pimpinan Ponpes

KESATUCO. Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat dari Fraksi PKS, Ir H Abdul Hadi Wijaya M.Sc berkunjung ke Pondok Pesantren Miftahul Ulum di Kampung Cibaragalan, Desa Ciwangi, Kecamatan Bungursari, Kabupaten Purwakarta, belum lama ini.

Pada kunjungan dalam rangka mengisi masa reses tersebut, Gus Ahad, panggilan akrab Abdul Hadi Wijaya, mendengarkan ‘curhatan’ Pimpinan Ponpes Miftahul Ulum KH Ayi Djauharudin Thohir.

“Alhamdulillah, masa reses ini menjadi kesempatan untuk bersilaturahmi langsung dengan warga. Termasuk menerima berbagai masukan dari perwakilan warga,” ujar Gus Ahad yang juga menjabat Wakil Ketua Komisi V DPRD Jabar ini melalui rilisnya, Rabu (8/7/2020).

Baca Juga:  Kena Imbas Pandemi, Jabar - OJK RI Bahas Pemulihan Sektor Manufaktur

Legislator dari dapil Karawang – Purwakarta ini pun tampak seksama mendengarkan aspirasi yang disampaikan warga, yang saat itu juga ikut hadir.

Di antaranya, terkait pembangunan ponpes, kesejahteraan guru DTA, guru ngaji, penyuluh agama dan guru honorer, hingga ketersediaan fasilitas kesehatan.

“Semua aspirasi kita tampung. Namun itu tidak bisa mengandalkan APBD karena refocusing untuk penanganan COVID-19. Karena itu, akan kita cari sumber lainnya,” ucapnya.

Baca Juga:  Ramai Pernikahan, Legislator Asal Sukabumi Ingatkan Protokol Kesehatan

Khusus untuk kesejahteraan guru DTA, sambungnya, Pemerintah Daerah Kabupaten Purwakarta bisa mencontoh kebijakan Bupati Karawang. “Yakni dengan menerbitkan Perda terkait kesejahteraan Guru DTA,” kata Gus Ahad.

Sementara itu, Pimpinan Ponpes Miftahul Ulum KH Ayi Djauharudin Thohir menyampaikan, kebutuhan yang paling mendesak adalah pembangunan dua ruang/lokal belajar Alquran untuk satuan TPQ.

“Saat ini kami memiliki tiga ruang kelas RA dan tiga kelas DTA. Adapun ruang belajar Alquran (TPQ) sebelumnya ada dua, namun yang satu roboh dan yang satunya lagi nyaris ambruk sehingga tak dapat digunakan,” ucapnya.

Baca Juga:  Viral! Pohon Pisang di Depok Ini Berbuah Lebih dari Satu Tandan

Karena kondisi tersebut, siswa TPQ untuk sementara ditampung di musala yang menjadi tempat belajar siswa DTA. “Kondisi ini membuat proses KBM tidak maksimal, namun mau bagaimana lagi,” ujarnya.

Dirinya pun berharap Gus Ahad bisa membantu merealisasikan pembangunan dua ruang kelas tersebut. “Insyaallah, beliau sangat memahami kondisi ponpes ini. Mudah-mudahan bisa segera terealisasi,” ucapnya. (Red)

Bagikan:
Left Menu Icon