Ditengah Bansos Covid-19 Daya Beli Masyarakat Anjlok, Harga Sayuran Hancur

KESATUCO. Dampak pandemi Covid-19, hasil panen sayuran di beberapa daerah tidak dapat menyelamatkan para petani, sebab harga sayuran anjlok. Salah satunya harga mentimun Rp500 perkilonya. Padahal, harapan petani setempat ditengah-tengah ancaman Covid-19 ini bisa menyelamatkan ekonomi mereka.

Tapi ternyata, harapan itu tidak sesuai dengan kenyataan yang ada. Karena, hasil panen sayuran petani di daerah itu anjlok dan turunnya cukup jauh dari harga biasanya. Meski harganya turun, mau tak mau petani harus menjual sayuran miliknya, walaupun harus rugi, apalagi ditengah-tengah pandemi Covid-19.

Kondisi tersebut menjadi perhatian serius salah satu Anggota DPRD Purwakarta, Ceceng Abdul Qodir dari Fraksi PKB. Penurunan harga sayuran disebabkan pandemi Covid-19 di daerahnya, dan harga itu anjlok dari musim panen sebelumnya.

Baca Juga:  Kabupaten Sukabumi Ditargetkan Jadi Demplot Tambak Udang Berkelanjutan

“Menyikapi persoalan ini ditengah-tengah Covid-19, masyarakat berharap, kehadiran pemerintah untuk membuat kebijakan yang berpihak kepada petani,” ungkapnya.

“Dampak Covid-19, sudah berdampak besar ke sumber ekonomi masyarakat kita, harapan satu-satunya panen sayuran kali ini. Tapi, harganya anjlok. Ya, kita minta pemerintah hadir bersama masyarakat,” harapnya.

Sementara diketahui terang Ceceng, Pemerintah Provinsi Jabar mengeluarkan kebijakan melalui Bantuan Sosial Subsidi untuk Masyarakat rawan miskin dengan sembako. Padahal seharusnya bisa dilakukan secara tunai, seperti yang dlakukan oleh Dana Desa dan Bansos Pemerintah Daerah Purwakarta.

Baca Juga:  Ada Ratusan Calon Jemaah Haji asal Kota Sukabumi Gagal Berangkat

“Melalui bantuan tunai, penerima bantuan subsidi bisa belanja langsung ke petani. Sedangkan saat ini, Bansos Pemprop berupa sembako, ini sangat merugikan para petani sayuran yang kena dampak Covid,” tandasnya.

Ceceng menambahkan, kebijakan Pemprop Jawa Barat ini menyiapkan Anggaran 16 Triliun untuk menangani Dampak Covid 19, seharusnya bisa menaikan daya beli masyarakat jika diberikan secara tunai. Hal tersebut penting dilakukan, agar daya beli masyarakat tidak semakin turun sebagai imbas dari pandemi COVID-19.

“Kebijakan Bansos Propinsi sangat penting untuk mempertahankan daya beli masyarakat tersebut, agar konsumsi tidak semakin turun. Terutama mempertahankan daya beli yang terkena paling kuat dari kondisi saat ini,” tegasnya.

Baca Juga:  Pelayanan SIM, SKCK dan BKPB Kembali Beroperasi

Ceceng mencontohkan, Bansos dengan cara Bantuan Langsung Tunai (BLT). Melalui BLT paling tidak bisa sedikit menahan penurunan daya beli masyarakat tersebut. Bila bantuan bulat berupa uang akan dapat menggerakkan roda perekonomian di daerah tersebut, khususnya bagi Petani sayuran.

“Kalau pemerintah yang membelanjakan yang dapat untung hanya pedagang pasar dalam hal ini masyarakat kelas menengah keatas. Sedangkan kalau penerima bantuan membelanjakannya di daerahnya masing-masing, tentunya akan terjadi perputaran ekonomi di wilayah itu walaupun kecil, setidaknya warga sekitar ikut terkena dampaknya,” ujar Ceceng. (asep ahmad)

Bagikan:
Left Menu Icon