Di Persidangan, Bupati Cianjur Yang Ditangkap KPK Itu Bantah Intruksikan Potong DAK

KESATUCO.Babak baru persidangan kasus suap Bupati Cianjur Irfan Rivano Mochtar dengan modus memotong dana alokasi khusus (DAK) fisik SMP 2018 memasuki babak baru.

Di persidangan Senin (8/7) malam di Pengadilan Tipikor pada Pengadilan Negeri Bandung, Irvan membantah semua tuduhan.

Kasus ini berawal dari Pemkab Cianjur yang ‎mendapat bantuan DAK senilai Rp 48 miliar untuk 137 SMP di Kabupaten Cianjur. Dana itu seharusnya digunakan untuk pembangunan infrastruktur sekolah, baik perpustakaan, ruang kelas hingga laboratorium sekolah.

Pencairan Rp 48 miliar dicairkan tiga tahap. Sebelum cair, Kadisdik Cianjur Cecep Sobandi yang mengurus DAK, dipanggil oleh Irvan yang meminta disediakan dana 7 persen dari DAK jika sudah cair. Alasannya, untuk pendanaan politik di 2018. ‎Uang dikordinasikan oleh TB Cepy Setiady.

Belakangan, Cecep dan Rosidin, Kabid SMP‎ Disdik Cianjur, juga turut memotong hingga 10,5 persen. Caranya dengan meminta kepala sekolah memotong dana DAK yang diterima kemudian diserahkan pada Cecep.  Rosidin, Cepy, Irvan dan Cecep turut jadi terdakwa.

Di persidangan hari ini, Irvan membantah semua keterangan Cece‎p, Rosidin dan Cepy. Baik itu keterangan soal intruksi pemotongan dana hingga penerimaan uang. Kasus ini ditangani Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

KPK awalnya menangkap Cecep Sobandi lewat operasi tangkap tangan (OTT) yang menerima uang dari kepala sekolah penerima DAK.  Oleh Cecep, setiap pemotongan DAK, uang diserahkan ke Irvan. ‎

Mulanya, Irvan mengaku tidak mengetahui secara rinci soal DAK yang diperuntukkan bagi 137 sekolah tingkat menengah pertama. ‎Irvan pun mengaku tidak pernah berbincang dengan Cecep Sobandi terkait pemotongan DAK untuk kepentingan memenuhi kebutuhan di ‘tahun politik’ sebagaimana tertuang dalam dakwaan.

“Pernah bicara dengan Cecep terkait DAK?” tanya hakim ketua, Daryanto.

“Tidak pernah,” jawab Irvan.

“Awal Desember 2017 pernah bilang Cecep perlu dana untuk tahun politik?” lanjut Daryanto.

“Tidak pernah,” kata Irvan.

Padahal, dalam dakwaan yang disusun jaksa tertera bahwa Irvan pernah bertemu Cecep Sobandi dan Rosidin di rumahnya. Ketika itu, Irvan mengaku membutuhkan dana untuk memenuhi kebutuhan di ‘tahun politik’.

“Mengetahui dana dan pendidikan ada kesepakatan potongan 17,5%?” tanya Daryanto.

“Tidak tahu,” ujar Irvan singkat.

“Pernah berpesan atau menyuruh ke TB Cepy Setiady agar menemui Cecep Sobandi soal dana DAK?” tanya Daryanto.

“Tidak pernah,” kata Irvan.

Daryanto menanyakan lagi pada Irvan soal peneriman uang Rp 600 juta hingga Rp 200 juta yang diberikan Cecep di pendopo maupun rumah dinas.

“Tidak pernah dan saya tidak tahu,” ujar Irfan. Daryanto mengkonfirmasi ulang bantahan Irvan pada Cecep.

“Tidak betul yang mulia, saya yang langsung menyerahkan uang (hasil potongan itu) ke pak Irfan,” ujar Cecep.

Hakim dan jaksa KPK mencecar Irvan karena selalu menyangkal setiap pertanyaan. Namun, hakim akan membuat penilaian tersendiri terhadap keterangan Irvan. Hari ini, Irfan bersaksi untuk Cecep Sobandi, Rosidin dan Cepy.

Bagikan:
Left Menu Icon