Dedi Mulyadi Dampingi Ika yang Digugat Sri Mulyani

KESATUCO. Kasus gugatan di dalam keluarga kembali terjadi. Kali ini terjadi di Kabupaten Majalengka, Jawa Barat. Uniknya dalam kasus ini justru sang ibu yang menggugat anak.

Anggota DPR RI Dedi Mulyadi yang sejak lama konsen mengurusi gugatan keluarga kembali menyoroti kasus tersebut. Bahkan ia telah menelepon langsung Ika Wartika alias Kwik Gien No yang digugat oleh ibunya Sri Mulyani alias Kwik Lioe Nio.

Melalui sambungan telepon Ika menceritakan awal mula ia digugat agar mundur dari statusnya sebagai anak oleh Sri Mulyani. Rupanya gugatan itu bermula dari keinginan sang ibu untuk menjual Gelora Studio Foto atau yang lebih dikenal dengan Foto Abok Majalengka. Namun hal itu ditolak oleh Ika.

“Abok itu sudah terkenal sebagai studio foto. Saya tidak mau dijual, tidak mau tanda tangan. Abok itu kan sudah ratusan tahun mau saya lestarikan. Saya ngotot tidak mau tanda tangan (dijual). Sekarang saya ujug-ujug dipanggil digugat,” ucap Ika kepada Dedi Mulyadi.

Baca Juga:  Sejumlah Ruas Jalan di Purwakarta Ditutup saat Malam Takbiran

Gugatan tersebut, kata Ika, mengharuskan dirinya membuat surat pernyataan untuk memutuskan hubungan ibu dan anak dengan Sri Mulyani.

“Nah saya enggak mau. Tapi tetap Kamis itu sidang (gugatan) saya tetap harus bikin surat pernyataan,” katanya.

Ia pun menyesalkan pihak pengacara penggugat tidak pernah berkomunikasi dengannya sebelum melayangkan gugatan. Padahal menurutnya sebelum berperkara pihak pengacara bisa berkomunikasi dengan dirinya. Ia menduga sang ibu menggugat dirinya karena dikompori atau dibujuk pihak lain.

“Saya anak tunggal. Dari dulu tidak warisan, masa bodo saya mah. Itu juga kan beberapa rumah sudah dijual tanpa ada sepengatahuan saya, ya saya diamkan. Tapi kalau Abok itu sudah ada wasiat dari papih saya kalau bisa jangan dijual karena ini dapat susah payah. Tapi tetap saja pingin dijual. Ini tuh se- Majalengka sudah tahu bahkan dikenal dengan Perempatan Abok,” ucapnya.

Baca Juga:  237 WBP Lapas Purwakarta Terima Remisi Khusus Idul Fitri 1442

Ika menyebut alasan ibunya ingin memutuskan hubungan karena merasa tidak pernah diurus olehnya. Padahal ia semenjak bapaknya meninggal dunia sang ibu telah diajak untuk tinggal bersama.

Menurut Ika bahkan saat membujuk ketiga kalinya ia sempat didampingi pengacara sebagai saksi bahwa ia ada keinginan untuk merawat ibunya. Namun upaya itu juga ditolak oleh sang ibu.

“Walau begitu saya awalnya tiap minggu kasih (uang) tapi ternyata malah dibagikan lagi, makan tiap pagi diantarkan, tapi sekarang bilangnya saya tidak ngurus dari tahun 2006,” ucap Ika.

Baca Juga:  Izinkan Warga Salat Idulfitri di Masjid dan Lapangan, Pemkot Tasikmalaya: Diawasi Tim Satgas COVID-19

Sesuai jadwal Ika akan menghadiri sidang perdana gugatan pada Kamis 6 April 2021 di PN Majalengka.
“Tapi tetap nanti Kamis saya harus bikin surat pengakuan bahwa saya bukan anak,” tuturnya.

Terkait hal tersebut Dedi Mulyadi akan mengawal kasus ini hingga tuntas. Bahkan ia akan hadir pada sidang perdana Kamis nanti di Majalengka.

“Kamis sidang saya akan hadir. Mudah-mudahan kasusnya cepat selesai. Kalau dengar dari Teh Ika bagus juga punya idealisme agar punya peninggalan dari bapaknya tidak dijual tapi menjadi peninggalan yang bisa dikenang sepanjang masa. Bila perlu jadi museum,” ujar Dedi Mulyadi.

Buka kali ini saja Dedi Mulyadi mendampingi kasus gugatan dalam keluarga. Sebelumnya ia telah berhasil memediasi dan mendamaikan kasus gugatan di Demak, Semarang dan Bandung. (Red)

Bagikan: