Cerita Agus Marshal, Eks Napiter Jaringan Aceh Pendidik Pelaku Bom Panci Bandung

KESATUCO. Serangkaian aksi terorisme kembali mengguncang Indonesia. Sejumlah pelaku tewas saat menjalankan aksinya dan lainnya berhasil ditangkap oleh Tim Densus 88 Mabes Polri.

Aksi terorisme di Indonesia sudah sejak lama terjadi mulai dari Bom Bali I, Bom Bali II, Bom Marriot hingga serangan senjata di Thamrin Jakarta pada tahun 2016. Terakhir adalah aksi bom bunuh diri di Makassar dan penyerangan wanita bersenjata di Mabes Polri.

Aksi terorisme menyedot perhatian lainnya adalah jaringan teroris Aceh yang membuat sejumlah pelatihan perang. Salah satu tokohnya adalah Agus Marshal yang merupakan seorang pria asal Purwakarta yang bertugas menyuplai logistik dan merekrut orang untuk ikut latihan di Aceh.

Agus yang ditangkap pada tahun 2010 itu kemudian bebas setelah menjalani hukuman penjara 4 tahun 8 bulan di Lapas Cibinong. Setelah lepas ia pun menjalani program deradikalisasi dipantau langsung oleh Dedi Mulyadi yang saat itu masih menjabat sebagai Bupati Purwakarta.

Saat itu Dedi Mulyadi memberikan sejumlah bantuan modal agar Agus bisa menata kembali kehidupan ekonominya. Tak hanya itu, Agus juga sempat menjadi pembicara dalam Sekolah Ideologi yang digagas Dedi Mulyadi untuk berbagi kisah sekaligus mengingatkan generasi muda akan bahaya terorisme.

Jatuh bangun Agus memulai usahanya hingga akhirnya kini ia dipercaya sebagai pengawas kebersihan di wilayah Bungursari hingga Tol Cikopo. Ia pun kini menjadi tulang punggung keluarga karena dua anaknya baru saja di-PHK akibat pandemi Covid-19.

Baca Juga:  Diduga Putus Cinta, Pemuda Ini Nekat Gantung Diri

“Sekarang ada 13 orang yang tinggal di rumah mulai anak, menantu, sampai cucu. Kalau anak ada yang PHK, kemudian menantu kerja serabutan. Tapi alhamdulillah rezeki ada saja. Istri juga bantu-bantu dari hasil laundry,” ujar Agus saat berbincang dengan Dedi Mulyadi dalam akun youtube Kang Dedi Mulyadi Channel, Selasa (6/4/2021).

Agus menceritakan awal mula ia bisa bergabung hingga akhirnya menjadi puncak pimpinan atau Amil dalam jaringannya. Saat itu ia yang bekerja sebagai buruh pabrik sering mengikuti pengajian umum di Cikampek.

Dalam pengajian itu ia berinteraksi dengan sejumlah orang hingga akhirnya terjadi diskusi. Perlahan Agus pun meninggalkan pengajian itu dan mulai rutin berdiskusi dengan sekitar 10 hingga 12 orang yang sepemahaman dengannya.

“Dari situ kita mulai pemahaman itu ambil sikap yang jelas kita kontra dengan ideologi pemerintah, dengan hukum. Bahasanya kita luruskan, tapi di lapangan kan beda. Jadi antara dakwah dan kepentingan politik itu yang berkembang,” ujar Agus yang kemudian dipercaya menjadi pimpinan kelompok.

Baca Juga:  Inpres Terbit, Puluhan Ribu Pendamping Desa Terdaftar Program Jamsostek

Hingga akhirnya ia terlibat dalam proyek pelatihan militer teroris di Aceh. Agus mendapat tugas mengelola suplai senjata, amunisi hingga perekrutan calon yang akan ikut latihan militer di Aceh.

Saat itu ia ditugaskan untuk mengambil 12 dus yang berisi sekitar 12 ribu peluru dari kelompok teroris lain. Ia mengambil dus tersebut di sekitar SPBU Cikopo.

“Awalnya saya tidak tahu itu dari mana. Ternyata yang kirim Dulmatin (Djoko Pitono) yang ditembak di warnet (Pamulang, Banten). Kemudian dari situ saya kenal banyak tokoh termasuk Dulmatin,” ucapnya.

Setelah mendapat barang tersebut Agus membawanya ke pos tempat biasa kelompoknya berkumpul. Pos tersebut sebelumnya adalah kandang kambing yang berada di sekitar rumah Agus.

Singkat cerita Agus memerintahkan salah seorang untuk membawa dus berisi peluru itu ke Aceh. Saat pengantaran itulah polisi menangkap anak buahnya. Agus yang panik kemudian memindahkan amunisi itu ke Cikampek.

“Waktu itu logistik kita pindahkan ke cikampek di rumah Yayat yang kemarin bom panci di Bandung. Itu binaan saya, sepengajian. Logistik di situ kemudian di suplai tujuan ke Aceh,” kata Agus.

Polisi yang terus melakukan pengembangan akhirnya berhasil menangkap Agus di Kawasan Industri BIC Purwakarta. Saat itu ia tengah menyamar sebagai pekerja yang memasang instalasi atap baja salah satu pabrik.

Baca Juga:  Polres Kota Cirebon Berikan SIM D Gratis untuk Penyandang Disabilitas

“Saya sudah tahu diawasi (polisi), sempat mau pindah (kerjaan). Qodarullah memang jalannya seperti itu (ditangkap),” ucap Agus Marshal.

Ia kemudian ditangkap, divonis bersalah  dan menjalani hukuman penjara 4 tahun 8 bulan. Saat itu ada sekitar 25 orang napi teroris yang ditahan dalam 4 sel berbeda dengan tahanan umum lain.

“Sekarang saya menyadari dan pelajari lebih dalam lagi, ya saya minta maaf. Ternyata ada sisi buruk, berlebihan tadi, jadi ada sisi kita memahami sepotong-sepotong, euforia dan menjadi tindakan (terorisme),” ujar Agus saat menyesali perbuatannya di masa lalu.

Agus pun berterima kasih pada Dedi Mulyadi yang kini menjabat sebagai Anggota DPR RI. Sebab Dedi yang kala itu menjadi Bupati Purwakarta telah melakukan deradikalisasi yang nyata. Bahkan kini Agus mendapat honor bulanan yang pasti setelah diangkat menjadi pengawas kebersihan.

Sementara itu Dedi Mulyadi menilai terorisme sebagai tindakan irasional yang mengguncang stabilitas negara dan menyengsarakan banyak orang termasuk keluarga pelaku sendiri.

“Kita bekerja secara rasional, berprofesi secara profesional dan tinggalkan berbagai kegiatan indoktrinasi atas nama agama yang menyesatkan dan menyengsarakan banyak orang. Jaga negara, jaga keluarga,” ujar Dedi Mulyadi. (Red)

Bagikan: