Bupati Purwakarta Optimis Bisa Ekspor 50 Ribu Ton Buah Manggis Tahun Ini

KESATUCO. Masa berbuah atau musim Buah Manggis biasa terjadi setiap Januari hingga April. Khusus untuk wilayah Kabupaten Purwakarta, panen raya Buah Manggis diprediksi terjadi antara Maret hingga April 2020.

Buah Manggis sendiri saat ini menjadi komoditas khas Kabupaten Purwakarta yang menjanjikan dari sisi ekonomi. Bahkan, buah yang punya ciri khas warna kulit merah keunguan itu, kini memiliki daya saing secara global.

Bupati Purwakarta, Anne Ratna Mustika menuturkan, luas lahan perkebunan Manggis di Purwakarta mencapai lebih dari 1.500 hektare. Lahan tersebut, tersebar di lima kecamatan. Yakni, Wanayasa, Kiarapedes, Bojong, Darangdan, dan Pondoksalam.

“Dalam waktu dekat, Buah Manggis di kita (Purwakarta) akan memasuki panen raya,” ujar Anne kepada sejumlah awak media di Gedung Negara Purwakarta, Selasa (4/2/2020).

Anne menjelaskan, data dari dinas terkait mencatat rata-rata produksi Buah Manggis saat panen raya sekitar 47 ton per hektare. Hasil panen tersebut, bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan lokal (domestik), tapi juga hingga mancanegara atau kebutuhan ekspor.

Pemerintah Pusat Buka Keran Ekspor Manggis sejak 2017

Sebenarnya, saat ini angin segar tengah menerpa para petani Manggis di wilayahnya. Pasalnya, sejak 2017 lalu pemerintah pusat telah membuka keran ekspor Manggis ke sejumlah negara di Asia. Tentunya, ini menjadi kesempatan para petani Manggis untuk peningkatan ekonomi.

“Alhamdulillah, keran ekspor telah dibuka. Sehingga, komoditi unggulan khas Purwakarta saat ini bisa menembus pasar internasional. Ini menjadi angin segar bagi kami. Sejauh ini, kami telah mengekspor ke beberapa negara Asia, salah satunya Cina. Tahun ini kami targetkan bisa ekspor juga ke wilayah Timur Tengah,” kata Anne.

Hingga kini pihaknya pun terus mendorong agar produktivitas perkebunan Manggis ini terus meningkat, baik dari sisi kualitas maupun kuantitasnya.

Untuk memperkuat kualitas sendiri, salah satu upayanya yakni dengan memberikan bimbingan mengenai good agricultural practice (GAP) dan standard operational procedure (SOP) kepada para petani.

“Dari sisi kuantitas, kami terus mendorong bagaimana supaya produktivitasnya terus meningkat. Sehingga, kebutuhan domestik maupun ekspor bisa tetap terpenuhi,” ucap dia.

Anne juga memastikan pada panen raya tahun ini jumlahnya akan meningkat 10 persen dari tahun sebelumnya. “Jika pada tahun lalu hanya mampu melakukan ekspor 30 ribu ton, tahun ini bisa 50 ribu ton per tahun,” katanya.(Hru/Add)

Bagikan:
Left Menu Icon