Bottlesmoker Kian Serius Garap Musik untuk Tanaman

KESATUCO. Duo elektronik asal Bandung, Bottlesmoker, semakin serius dalam penggarapan musik untuk tanaman. Setelah beberapa bulan lalu menggelar konser untuk tanaman yakni Plantasia, kali ini mereka merilis karya baru. Sebuah video musik untuk single pertama dari album ke-5 dengan judul Tortuga dilepas ke publik. 

Menjadi nomor pertama dari album terbaru ‘Puraka’, lagu Tortuga menceritakan tentang kondisi alam yang sudah rusak. Bagi Angkuy dan Nobie, personel Bottlesmoker, alam khususnya hutan, seharusnya menjadi rumah bagi seluruh manusia.

“Hutan sudah menjadi menjadi sumber kehidupan bagi kita semua dan selayaknya rumah, seharusnya kita bisa menjaganya dengan baik,” kata Angkuy, melalui rilisnya, Rabu (16/9/2020).

Lagu Tortuga ditulis tahun lalu, ketika duo asal Bandung ini mempelajari tentang Forest Healing. “Alam adalah bagian dari manusia, sebagian dari tubuh manusia dianggap memiliki hubungan yang personal dengan alam. Hubungan manusia dengan alam lah yang menjadi tema besar dari album Puraka nanti,” ujar Angkuy.

Baca Juga:  Seluruh Paslon di Sukabumi Langgar Protokol Kesehatan

Tembang Tortuga juga menjadi permulaan Bottlesmoker dalam mengeksplorasi energi alam pada musik. Tortuga merupakan lagu pertama Bottlesmoker yang memiliki lirik dan vokal yang ditulis sendiri. Melibatkan Esya Swasti Sukmatia sebagai pengisi vokal dengan notasi penggabungan dari beberapa budaya.

Angkuy mengungkapkan, keunikan dari lagu ini adalah penggunaan lirik dari Bahasa Zufrasi, bahasa buatan hasil cipta dari frasa Rully Shabara (Senyawa, Zoo, Setabuhan, dll). Rully juga terlibat dalam penerjemahan yang ditulis oleh Nobie.

Baca Juga:  Wali Kota Tasikmalaya Ditahan KPK, Sekda: Roda Pemerintahan Tak Terganggu

Video musik Tortuga menggambarkan tentang dua sisi yang tersirat Ibu Pertiwi sedang bersedih dan menceritakan kegelisahannya kepada manusia. Ihsan Achdiat didaulat sebagai sutradara video klip yang sudah lama bekerja sama dengan Bottlesmoker.

“Saya sangat senang sekali video musik yang melibatkan banyak orang dan mereka tergerak berdasarkan pesan baik yang ada di lagu ini. Semacam sirkus yang bersumber dari saling terinspirasi,” katanya menjelaskan.

Bahasa Zufrasi

Menurut Nobie, ada banyak yang dipelajari selama dia menggarap proyek single dan video musik lagu ‘Tortuga’. Apalagi Nobie bertugas menerjemahkan Bahasa Zufrasi yang jadi isi dari lagu ini.

Baca Juga:  Wali Kota Tasikmalaya Ditahan KPK, Sekda: Roda Pemerintahan Tak Terganggu

“Banyak hal yang terjadi di sekitar yang akhirnya masalah ala mini memiliki energi yang tinggi untuk saya tulis di lirik. Proses memahami lirik dari bahasa Zufrasi ini akan melatih proses kita juga untuk mengerti kondisi alam di sekitar kita,” ucap Nobie.

Tortuga diambil dari bahasa Spanyol yang berarti kura-kura. Dalam budaya Cina, kura-kura disimbolkan sebagai animal spirit dan memiliki umur panjang. Di beberapa suku, Tortuga dijadikan sebagai personifikasi untuk ‘Mother Earth’.

“Semoga lagu dan video musik Tortuga bisa memberikan energi bagi manusia untuk kembali ke hutan, atau hutan yang datang ke kota dan terus menjaga keseimbangan hidup,” kata Nobie. (sab/add)

Bagikan: