Bangunan Madrasah Tsanawiyah di Sukabumi Ini Terancam Ambruk

KESATUCO. Bangunan Madrasah Tsanawiyah Babussalam di Kampung Babakan Jambu, Desa Sirnasari, Kecamatan Pabuaran, Kabupaten Sukabumi dalam kondisi memprihatinkan.

Pantauan wartawan Kesatu pada Rabu (12/2/2020), ruang kelas dalam kondisi terancam ambruk. Sebagian besar dinding mengalami retakan, beberapa ruangan kelas dengan atap jebol karena rusak dimakan usia.

Padahal bangunan tersebut menampung 237 pelajar. Aktivitas kegiatan belajar yang melibatkan lima belas guru dibagi menjadi dua rombongan belajar. Saat hujan, atapnya bocor.

Sudah hampir belasan surat proposal berisikan permohonan dilayangkan tidak hanya ke kantor dinas terkait. Tapi surat yang dilayangkan serupa ke Kantor Kementerian Keagamaan di Sukabumi maupun di Jakarta. Namun, masih belum kunjung direalisasikan.

“Bahkan ada dua ruangan kelas yang sama sekali tidak bisa dipergunakan karena khawatir ambruk dan menimpa pelajar dan guru. Bangunan tersebut sengaja dikosongkan dan hampir berjalan kurang dari dua tahun dalam kondisi terbengkalai,” kata
Kepala Madrasah Tsanawiyah Babussalam, Abdul Salam.

Abdul Salam mengatakan untuk mencegah ambruknya bangunan hingga menimpa pelajar, sebagian kegiatan belajar digunakan ruangan lain yang masih layak pakai.

“Anak-anak dan pengajar tidak berani beraktivitas di dua ruangan. Karena tempat belajar itu, khawatir ambruk, menimpanya , “katanya.

Gempa Memperparah

Selain hujan yang terus menerus mengguyur Sukabumi, kata Abdul Salam, kerusakan bangunan madrasah semakin parah akibat gempa bumi 2014 dan 2019. Kendati Pemkab Sukabumi dan Kemenag telah melakukan pendataan, tapi perbaikan masih belum dilakukan.

“Kami hanya memperoleh bantuan berupa dua terpal untuk menutupi atap yang ambruk. Dan untuk memperbaiki, kami terpaksa urunan warga dan pihak sekolah” katanya.

Abdul Salam mengatakan kendati proses pembelajaran berjalan seperti biasa, tapi keberadaan bangunan hanya dilakukan dilakukan seadanya. Bila mana hujan turun, kadang proses belajar mengajar terpaksa dihentikan.

“Memang ada bantuan Bos tapi hanya cukup untuk operasional pengajar saja. Tidak bisa untuk membangun” ujarnya. (Her).

Bagikan:
Left Menu Icon