Angka Kematian Lebih Tinggi Dibanding Kelahiran di Tempat Ini

KESATUCO. Sensus Penduduk terbaru dari Korea Selatan mengungkapkan bahwa angka kematian di sana lebih besar dibandingkan angka kelahiran.

Mengacu pada data yang dikeluarkan oleh Kementerian Keamanan Dalam Negeri, perbandingan antara angka kematian dan kelahiran di tahun 2019 adalah 275.815 berbanding 307.764 jiwa. Dengan kata lain, untuk pertama kalinya jumlah populasi menyusut.

“Penurunan angka kelahiran secara konstan tetap menjadi isu besar di Korea Selatan,” ujar pernyataan pers kementerian, dikutip dari CNN, Selasa (5/1/2021).

Tidak hanya jumlah populasi menyusut, jumlah populasi yang menua pun bertambah pesat. Hasil sensus menunjukkan 32,7 persen populasi Korea Selatan berada di rentang usia 40-50 tahun dan 25 persen berada di usia 60 tahun ke atas. Singkat kata, lebih dari 50 persen populasi Korea Selatan tak lagi muda.

Baca Juga:  Antisipasi Penyebaran B117, Ini Permintaan Ridwan Kamil kepada Pusat

Menurut pernyataan Kementerian Keamanan Dalam Negeri Korea Selatan, langkah strategis perlu dilakukan untuk mencegah ketimpangan yang ada berlanjut. Hal itu meliputi perubahan fundamental dalam hal kebijakan kesejahteraan, pendidikan, dan pertahanan nasional.

Lebih lanjut, hasil sensus terkait tidak menyebutkan apa yang membuat angka kematian bertambah. Kematian akibat pandemi COVID-19 pun tidak disinggung sebagai faktor. Per berita ini ditulis, Korea Selatan mencatatkan 64 ribu kasus dan 1000 kematian akibat COVID-19.

Baca Juga:  Seorang Ayah Penggal Putrinya Sendiri Karena Ketahuan Pacaran

Desember lalu, Bank Sentral Korea Selatan menyatakan bahwa sangat mungkin pandemi COVID-19 mempercepat penambahan angka kematian dan menurunkan angka kelahiran. Alasannya, pandemi tersebut tidak hanya mempengaruhi perekonomian warga, namun juga mengimbau mereka untuk menjaga jarak fisik. Hal tersebut, kata Bank Sentral Korea Selatan, adalah bagian penting dari rencana orang untuk berkeluarga.

“Cepat atau lamban Korea Selatan akan memiliki proporsi warga lansia terbesar di dunia. Kami mendesak adanya kebijakan tegas dan insentif untuk program keluarga berencana untuk menjaga keberlanjutan perekonomian negara ini,” ujar keterangan pers Bank Sentral Korea Selatan Desember lalu.

Baca Juga:  Pendaftaran Kartu Prakerja Gelombang 13 Dibuka

Sebagai tambahan, di tahun 2018, Korea Selatan juga sempat mengeluarkan survei soal pernikahan yang dilakukan oleh Institute Kesehatan dan Hubungan Sosial Korea.

Dalam survei itu, dengan responden lajang berusia 20-44 tahun, lebih dari 50 persen memutuskan untuk tidak menikah dulu. Besarannya, 51 persen untuk pria dan 64 persen untuk perempuan. Keengganan untuk mengorbankan hobi, pendidikan, dan finansial menjadi alasan utama mereka. (red)

Bagikan: