5 Hari di Trotoar, 32 Mahasiswa Disabilitas Netra Kembali ke Wyata Guna

KESATUCO. Setelah lima hari berjuang di trotoar, sebanyak 32 mahasiswa disabilitas netra penerima manfaat Balai Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas Sensorik Netra (BRSPDSN) Wyata Guna, diperbolehkan kembali memasuki asrama.

Hal itu disepakati, setelah pihak mahasiswa melakukan perundingan bersama Sekretaris Dirjen Rehabilitasi Sosial Idit Supriadi, Kepala BRSPDSN Wyata Guna Sudarsono, Direktur Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas Margowiyono, dan Kepala Biro Humas Wiwit Widiansyah, pada Jumat (17/1/2020).

Sebelumnya, ke-32 mahasiswa disabilitas netra ini sempat diusir dari asrama Balai Wyata Guna, Kota Bandung sejak Selasa (14/1) malam.

Pasalnya, mereka dinilai sudah tidak mimiliki hak tinggal di asrama milik Kementerian Sosial (Kemensos) itu. Namun, para mahasiswa disabilitas tersebut, memilih bertahan di trotoar depan asrama Balai Wyata Guna.

“Kami kemarin telah berunding dengan perwakilan kemensos yang dilakukan dari jam set 12 malam sampai subuh,” ujar satu di antara mahasiswa disabilitas netra, Elda Fahmi di BRSPDSN Wyata Guna, Jalan Padjadjaran, Kota Bandung, Sabtu (18/1).

Kendati demikian, lanjut Elda, para mahasiswa disabilitas tunanetra mengharapkan beberapa permintaan kepada perwakilan dari Kemensos. Satu di antaranya yaitu difasilitasi pertemuan dengan Menteri Sosial Juliari P. Batubara.

Pertemuan dengan orang nomor satu di Kemensos RI itu bukan tanpa alasan. Elda menyebutkan, pihaknya semata-mata ingin menyampaikan secara langsung aspirasi dari para mahasiswa disabilitas tunanetra di Wyata Guna.

“Mereka menjanjikan lami akan difasilitasi untuk bertemu langsung dengan bapak menteri,” ucap Elda.

Hak-hak Mahasiswa Disabilitas Netra Bakal Dipenuhi

Selain dapat menempati asrama di BRSPDSN Wyata Guna, sambungnya, hasil dari kesepakatan dengan pihak Kemensos, yaitu pemenuhan hak-hak para mahasiswa disabilitas netra.

Fasilitas yang diterima antara lain, pendidikan, kehidupan yang layak seperti makan dan minum.

Pasalnya, hal tersebut telah biasa mereka terima sebelum terbitnya Permensos Nomor 18 tahun 2018, tentang organisasi dan tata kerja unit pelaksana teknis rehabilitasi sosial penyandang disabilitas di lingkungan Direktorat Jenderal Rehabilitasi Sosial.

Melalui Permen tersebut, lanjut Elda, nomenklatur Wyata Guna yang asalnya berbentuk panti menjadi balai. Perubahan itu berdampak terhadap pelayanan penghuni asrama yang selama ini menghuni Wyata Guna.

“Hasilnya kami berhasil mendapatkan pencapaian yang pertama yaitu hak-hak yang dari panti akan diberikan kepada 32 mahasiswa di sini,” kata Elda.

Pantauan, tampak para mahasiswa disabilitas tunanetra mulai memasuki asrama di BRSPDSN Wyata Guna pada pukul 17.00 WIB. Mereka bahu-membahu untuk memasukkan barang-barang mereka yang sempat dikeluarkan dari asrama.(ram/add)

Bagikan:
Left Menu Icon